Khamis, 15 Julai 2010

Bertemu Tariq Ramadan

Baru berkesempatan membuat review wacana Prof Tariq Ramadan baru-baru ini. Sebelum ini saya belum pernah mendengar dan melihat secara 'live' ucapan beliau. Hanya pernah membaca buku nya yang bertajuk The Western and The Future of Islam In The West' . Huraian tentang Towards Reform of Islamic Education in the West' memuatkan kupasan menarik beliau. Huraian tentang 'Education of Heart dan 'Education of Mind' cukup menarik minat saya.

Cukup teruja mendengar ucapan menghurai sekitar nilai kebebasan dalam kerangka Islam. Tambahan pula cucu Hassan al-Banna ini merupakan seorang tokoh baru dunia Islam dan intelektual Islam yang giat membuka ruang interaksi antara Islam dan Barat.

Pertama kali juga saya teruja tatkala sampai ke ISTAC (International Institute of Islamic Thought). Bangunan ala-ala Andalusia, Granada mengingatkan saya seakan-akan berada di zaman emas Islam Andalusia. Rekaan bangunan dihiasi lukisan-lukisan menarik era kegemilangan Sultan Muhammad al-Fateh sungguh menghidupkan suasana.


Memabaca dan melihat gambar ISTAC sebelum ini sungguh tidak jauh dari realiti. Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas memang benar seorang tokoh Falsafah Islam yang hebat merangka sebuah bangunan yang cukup indah.

Tajuk wacana di ISTAC pada malam itu bertajuk Is Liberty An Islamic Value ? Persoalan yang timbul ialah bagaimana kita berinteraksi dengan kebebasan? Boleh dikatakan ramai yang hadir terdiri dari pelajar ISTAC ( pelajar M.A dan PHD ), Profesor, ahli akademik, golongan 'middle-upper class' yang agak moden dan golongan mahasiswa seperti saya.

Muqaddimah wacana Prof Tariq meningatkan para pendengar agar tidak menepuk tangan atau ber 'takbir' apabila beliau memberi ucapan. Inginkan suasana yang tenang. Kata beliau 'Takbir' is beyond of what you say in louder. Takbir sepatutnya lahir dari perasaan yang meresap dihati. Tidak perlu melaungkannya. Kritikan pertama beliau. Kritikan kedua 'dont only to repeat what the Quran, Hadith, ulama say, but to think". Jangan hanya pandai 'quote' ayat-ayat al-Quran dan Hadith atau kata ulama tanpa memahami maksud , tanpa berfikir dan mengkaji.


Kebebasan Intipati Kehidupan

Kemudian sekitar ucapan beliau yang sepat diambil ialah nilai kebebasan dalam Islam sudah lama dihuraikan. Kalimah "Laa Ilaha Illalah is to liberate yourself from any evil". Kebebasan merupakan intipati kehidupan manusia Islam, 'freedom of being is the essence'. Tidak berlawanan dengan fitrah. Semua inginkan kebebasan. Tetapi setiap dari manusia perlu bertanggungjawab terhadap kebebasan yang diterima dari Tuhan. "If you are free you will have responsibity'. Bertanggungjawab untuk diri , sesama manusia (termasuk non-muslim) , agama dan Tuhannya.

Mengingatkan saya tentang apa yang disebut oleh Syeikh Yusof al-Qardawi. Kebebasan boleh diibaratkan seperti pisau. Boleh digunakan untuk keburukan dan kebaikan.
Kebebasan Sebenar Melepaskan Diri Dari Ego

" True liberty is freedom yourself from ego, liberate yourself from ego, evil and etc". Kebebasan yang sebenar ialah membebaskan diri kita dari perasaan ego, kejahatan, dosa, maksiat dan perbuatan buruk lain. Kerana semua manusia secara fitrah tidak suka kepada keburukan dan sukakan kebaikan.



Kebebasan dalam Kerangka Maqasid Syariah

Walau pun kebebasan merupakan 'natural needs'. Tetapi keperluan azali manusia perlu dipandu dengan objektif. Maqasid Syariah ( objektif pengaplikasian syariah) memandu kebebasan manusia. Kebebasan perlu dilihat dari kaca mata berasaskan maqasid. Termasuk darinya ialah perkara Darurah seperti agama , nyawa, maruah, keturunan, aqal. Katanya kebebasan tidak bermaksud semua manusia boleh melakukan sesuka hati sehingga menggadaikan maruah. Kebebasan dipandu maqasid 'protect the dignity'. Menyelamatkan maruah manusia. "The diginity is to try protect your best, good with what you know".

"Put rules (obejctives) to protect the freedom".

Akhir

Saat akhir sesi pertanyaan timbul satu suasana intelektual yang cukup teruja. Begitu ramai berrtanya dan berhujjah. Sehingga wujud satu provokasi dari seorang pemuda yang mengkritik Prof Tariq Ramadhan mengatakan apa yang dikatakannya tentang kebebasan tidak ada dalam dalil dan jauh menyimpang dari pemikiran datuknya Hassan al-Banna. Agak tegang tetapi beliau penuh profesional menjawab.

Tamat pengalaman menghadiri wacana yang penuh ibrah dan meluaskan pandang alam kehidupan.

Isnin, 12 Julai 2010

Deschooling Society

By : Dzulkifli Abdul Razak

THE issue of the possible abolishment of examinations will be the subject of round-table talks soon. This is indeed refreshing as the debate is long overdue. But we must first examine the context of the discussion.

Almost 40 years ago, Ivan Illich broached the subject in Deschooling Society (1971) where he made a profound observation about what modern-day "school" and "education" is all about.

He wrote: "The pupil thereby 'schooled' to confuse teaching with learning, grade advancement with education, a diploma with competence, and fluency with the ability to say something new." This is no different when "medical treatment is mistaken for healthcare, social work for the improvement of community life, police protection for safety, military poise for national security, the rat race for productive work".

Given this as the context, it would seem that we may be barking up the wrong tree thinking that examinations are the root of the problem of present-day school and education.


We tend to forget that examinations are just one part of an elaborate system called school and/or education, and tests are in reality about gauging the impact of the system on learning.

If the system is inherently "bad", it can never be good enough, no matter how good the measure.

We are missing the woods for the trees! To further illustrate this, Illich said: "Health, learning, dignity, independence and creative endeavour are defined as little more than the performance of the institutions which claim to serve these ends, and their improvement is made to depend on allocating more resources to the management of hospitals, schools and other agencies in question."

Deschooling Society calls for a much deeper discussion on what scholarship is all about, which is particularly relevant in this increasingly dehumanising and unsustainable society that schools (including universities) are perpetuating since the emergence of the industrial revolution.


There is one historical context that is missing in today's discussion, namely the purpose of modern-day school and education.The current schooling system has evolved over time to meet the needs of the industrial age as it moved away from the agricultural age.

Industrialisation was "perfected" in the 19th century to resemble a factory assembly line -- some even sponsored by the powerful and famous of the time to support production.


It is therefore no coincidence that schools including tertiary institutions are organised like factories. The "factory" metaphor is more pervasive today when the marketplace has practically taken over the raison d'ĂȘtre of modern-day education.

We still hear, for example industrial demand for a tailor-made graduate who is regarded as nothing more than the "product" of the education system. In moulding this product, examination is a mere process of "quality control" that segregates the ones who meet the "benchmark" set by the marketplace from those who do not.

We talk in the language of the industry of creating "human capital" -- when education is all about nurturing a "human being".

It emphasises "employability" rather than "liveability", where "earning" becomes more important the "learning". Courses that are deemed to be marketable are given priority over the non-marketable.

As a result, two (of four) pillars of learning -- "learning to be" and "learning to live together" -- as advocated by United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation are neglected. Our biggest concern should be the direction that "education" is heading in the post-industrial age when "new" physical and mental structures are fast emerging to replace the old ones across the board -- socially, economically and politically.

Is it sufficient to have a New Economic Model (NEM) when education is lagging behind and based on an old, outdated and dysfunctional model? Can the transformational demands of the NEM be met with an education system that is no longer compatible? Can "inclusiveness" be effectively achieved when we fail to create a unified, if not, a singular educational system? These are but some of pertinent questions that go far beyond the issues related to examinations alone.

They strike deep at the heart of the purpose of education in the coming era. What is more pressing is transforming the current system much like the change from agricultural to the industrial age some 150 years ago.

And this is what the present discussion should be focused on. We may well decide to do away with a few examinations but we need a transformational change in line with the needs of an advanced nation.


*The writer is vice chancellor of Universiti Sains Malaysia. Taking from NST Perspective:Deschooling Society



Isnin, 2 November 2009

Muallim Dari Banjaran Titiwangsa : Bahagian II




Fathu Nursi, Nur dan Kisah Muallim al-Habab
Makna asal ialah bersih, bening dan orang Arab menyebut istilah bening itu untuk gigi yang putih, dan ada yang menyatakan ia diambil dari kata al-Habab, yaitu air yang meluap setelah turun hujan yang lebat. Itulah katanya ma’na al-mahabbah, istilah yang dirumuskan sebagai luapan hati dan gelojaknya disaat dirundung keinginan untuk bertemu sang kekasih. Ada juga yang mengertikannya sebagai tenang dan teguh. Itulah maksud yang sempat di ceduk Fathu Nursi dari Raudhah al-Muhibbin Wa Nuzhah Al-Mustaqim (Taman Orang-Orang Yang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu) , nukilan Ibnu Qayyim al-Jauzi. Termenung Fathu Nursi dan terlihat cebisan kata mengenai perihal kaum hawa yang diambil dari Men Are From Mars and Women Are From Venus, John Gray, katanya , ”women talk about problems to get close and not necessarily to get solution”.

Aku tidak pernah ingin mendengar perasaannya, aku hanya tahu ingin mencari penyelesaian, aku tidak pernah inign mendengar luahan hatinya menerangkan perasaannya, yang aku tahu hanya ingin membantu menyelesaikan masalahnya wal hal sebenarnya dia hanya ingin rapat denganku, mungkin inikah yang menyebabkan dia lari dariku Nursi ? Tanya Matt Arpslan sahabat muallim kacukan Melayu-Turki yang sedang dalam retakan mahabbah dengan sang kasihnya, memohon nasihat Nursi.

Bukan satu kes aduan seperti ini diajukan kepada Nursi, di madarasah Titiwangsa ini sudah membuak-buak dan menggebu-gebu budaya hedonisme-mahabbah (keseronokan cinta) berlegar tanpa kesudahan. Terserempak disana sini berkepit, berdua-duan, berkereta-kereta-an berbonceng-boncengan dan segala hal yang menyedihkan hati Nursi. Sering juga Nursi mendengar rungutan penduduk Taman Muallim bersebalahan madarasah Titiwangsa yang mengeluh ’inikah muallim yang ingin menjadi pendidik, aduh buruk adabnya berdua-duaan kesana sini”.

Tasik Titiwangsa di kaki banjaran menjadi tempat strategik indah untuk mereka berdepet (berduaan) dan Tasik Titiwangsa itulah juga sering menyaksikan tingkah bodoh-hedonis mereka saban ketika dan suasana. Kritis Nursi berfikir menyalahkan diri sendiri, masyarakat, pemerintah yang tidak pernah bersungguh dalam usaha enjoining the right and opposing the wrong” . Menjadi masalah yang menakutkan Nursi kerana sedar-sedar dirinya bahawa mereka ini adalah muallim yang bakal mencorak manusia, bukan merekayasa bangunan, mencipta robot atau mesin, berhujjah di parlimen, berdebat dimahkamah, membedah atau merawat penyakit zahiriah semata, bahkan mereka ini pembentuk peribadi generasi insan yang bertamaddun tinggi.

Bukan aku kata tidak boleh bermahabbah Matt! Tapi pandai-pandaila kamu menguruskannya agar tidak menyalahi batas syariat Matt, mahabbah itu fitrah manusia, masakan kamu boleh melawan fitrah, fitrah itu bersih tapi jika kamu tak uruskan dengan betul yang bersih boleh jadi hitam Matt ! Percaya Matt kamu boleh mencari jalan selesaikan, lamarlah terus sang kasih kamu tu, itu lagi elok dari kamu menjadi hedonis-mahabbah yang tak ketahuan itu. Nasihat Nursi.

Fathu Nursi teringat kembali dirinya yang sudah bertahun tidak berhubung dengan teman lamanya. Uruskan soal ini dengan baik Nursi, tidak salah jika kamu tahu batasnya dan menjaga nafsu dari tergelincir ! Nasihat murabbi Nursi, Pak Fustat. Nursi juga sedar dirinya tidak dapat lari dari perasaan mahabbah itu, namun dia sedar bahawa dia mesti bermujahadah (berjihad) menguruskkannya dengan baik agar tidak tersungkur ditengah jalan. Sudah bertahun Fathu Nursi tidak menghubunginya, tiba-tiba ingatannya kembali menyinar, Fathu Nur, insan kenalan Nursi, kembali terbayang diingatannya.


Insan yang baik budinya, berilmu, cerdik, beradab dan sopan itu telah mengikat hati dan jiwa Nursi. Fathu Nur mahasiswi yang masih menuntut di VSMU (Vitebsk State Medical University) , nun jauh di kota Russia telah menjadi pilihannya. Russia negara terbesar dunia meliputi 17,075,400 kilometer persegi menjadi pilihan Fathu Nur. Fathu Nursi kagum dengan Rusia di sudut pendidikannya kerana pendidikan diberikan secara percuma dan dijamin untuk semua warganegaranya. Kadar literasi (boleh membaca dan menulis) rakyatnya mencecah 99.4% dan kemasukan ke pendidikan tinggi begitu hebat persaingannya dan kualitinya. Pendidikannya amat ditekankan dalam bidang sains dan teknologi , medical, matematik, saintifik, ruang angkasa (aerospace) dan sebagainya. Inilah sedikit kelebihan negara sosialis yang menjaga kebajikan rakyat.

Tetapi disebalik keghairahan menuntut ilmu hard science itu terkadang kerisauan menjenguh Nursi dan hampir pasti katanya tiada diseimbangkan dengan ilmu mengurus diri ( fardhu ain) dan ilmu Islamnya. Kalau mahu hendaknya mencari sendiri di halaqah-halaqah mingguan dan majlis-majlis ta’lim. Itulah pesannya kepada Fathu Nur suatu ketika dahulu, agar diseimbangkan ilmu mengurus diri (fardhu ain) dan ilmu mengurus sistem (fardhu kifayah) agar ma’na sebenar kehidupan dapat selidiki dengan terang dan benar. Namun terkadang perasaannya tertanya-tanya bagaimana harusnya seorang muallim dan seorang doktor boleh berada dibawah satu bumbung, banyak perbezaannya, usah dicari perbezaan Nursi!Carilah persamaannya. Perbezaan saling melengkapkan manusia Nursi, bisik hati kecilnya.

Kota Russia, kota soviet sosialis, kalau Ernesto Che Guevara pejuang intelektual revolusi Marxis Argentina menjadi ikon revolusi, disana ada pejuang sosialis yang menjadi founder Union of Soviet Socialist Republics (USSR) ,Vladimir Illich Lenin seorang revolusioner komunis Rusia, teringat Fathu Nursi cerita sejarah Rusia dari guru sejarahnya dahulu. Kota negara sosialis itu menjanjikan pelbagai ujian mental dan fikrah, disebalik keindahan bagunan gereja St Basil yang indah itu namun tidak dapat ianya menandingi keindahan Masjid Aya Sofea Turki dan negara berideologi sosialis ini begitu maju dan moden. Begitupun Rusia mempunyai lebih ramai penduduk Islam berbanding Jordan dan Libya.




St Basil Russia


Mampukah Fathu Nur mengekalkan fitrah dan fikrahnya seperti dulu. Kerana Nursi sememangnya gusar dek kerna sudah ramai temannya yang tersungkur. Dulunya amat baik di sekolah agamanya, lalu berubah dek dikuasai senjata hedonisme dan persekitaran yang merosakkan. Lalu fikiran positif menyinari benak fikirnya, “orang yang kuat jiwa, faham, ikhlas, amal dan berukhuwah dalam satu keterikatan rantai organisasi Islam insha-Allah akan dijaga oleh-Nya”, moga-moga Fathu Nur istiqamah, sahutnya. Dulu temannya itu pernah menguatkan hati dan jiwa imannya dengan nasihat-nasihat dan surat-surat ringkas yang memurnikan iman, kata-kata Syeikh Bediuzzaman Sa’id Nursi sering diingatkannya.

"Iman memang mengandungi sebiji benih maknawi yang terbelah daripada pohon 'Tuba' yang kedapatan di syurga. Manakala kekufuran pula menyembunyikan bijian maknawi tersebut yang telah diludah oleh pohon 'Zaqqum' neraka jannam. Oleh itu, keselamatan dan keamanan hanya terdapat di dalam Islam dan Iman...Larilah dari perkara yang menjejaskan keikhlasanmu sebagaimana engkau lari dari ular dan kala".

Nursi benar-benar menjaga hubungannya agar tidak tersungkur di tengah jalan , berperang dari bermain dengan ayat-ayat fitnah dan bertenggek kebodohan di peti suara telefon mahupun mesej, kerna dia sedar siapa dirinya disebalik tabir Islamic movement, perlu menjadi insan yang senantiasa conscious terhadap tarbiyah roh agar tidak menjadi fitnah pada masa kini dan mendatang. Itulah secebis kisah mahabbah yang tersimpan dalam kotak sejarah hidup Fathu Nursi yang bakal menjadi muallim buat sedikit masa lagi. Menjadi muallim bukan semudah yang dikata, minatnya perlu kemas rapi tersemat di hati dan jiwa, citanya perlu tinggi setinggi Banjaran Titiwangsa, pengorbanannya usah dikira , perlunya sehebat dan setinggi Hassan al-Banna model muallim da’ie berjiwa cita, melalui sepak terajang dunia global dan liberal tidak semudah muallim yang reti bersahaja, tergadai anak bangsa dek alpa dunia.


Kubik Siasah Da’wah Muallim

Sun Tzu berstrategi dalam peperangan, strateginya dihikyatkan dalam buku the Art of War menajdi rujukan ahli siasah Gustin! Kamu ada idea tak Gus tentang isu yang terbaru ? Aku dah buntu ler . Mau tidak jangan jadi politikus ala Machiaveli, kita politikus Islami jangan terpengaruh dengan idea karya The Prince Machiaveli, jangan sampai dek kerana ingin mencapai matlamat siasah kita menghalalkan semua cara termasuk yang melanggari syariat, sahut Fathu Nursi kepada Gustin Prama Dewi, sahabatnya dari Indonesia yang memang cerdik dalam politik baru dan strategi berdepan dengan lawan demokrasi itu.

.

Di madrasah muallim ini, para muallimnya hanya sekitar 30% yang sedar kepentingan politik kampus apatah lagi faham mengenai apa yang Islam mahu dari politik, sahut Gustin. Gelombang politik mahasiswa pada kali ini amat kuat, mahasiswa ingnkan anjakan baru dalam petadbiran tertinggi yang telah dicanang dengan gambaran lemah sejak beberapa tahun lalu. Sahut Gustin, kita bukanlah hanya ingin mendapatkan kuasa Nursi , disebalik kuasa ada kewajipan yang lebih besar yang tidak tetanggung pun oleh bukit bukau utnuk memikulnya, Allah memilih manusia untuk memikul tugasan da’wah dan merealisasikan ayat-ayat Allah di muka bumi ini. Berat, sungguh berat.

Komitmen jihad siasah tidak boleh ditinggalkan seperti jug kita berjihad dalam jihad ta’lim. Golongan al-mala yang disebut dalam al-Quran dan dihuraikan oleh Prof Dr. Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya Usul Da’wah merupakan penentang tradisi terhadap cita-cita Islam. Al-Mala inilah golongan yang membentuk dan mempunyai circle of influence untuk merosakkan pemikiran masyarakat sama ada dalam bentuk hedonisme , kuasa, penipuan , kronisme , rasuah dan lain-lain.

Golongan al-mala’ dalam pentadbiran mahasiswa perlu diruntuhkan Nursi supaya nanti mereka kehilangan circle of influence untuk mempengruhi mahasiswa dengan joget , faham nasionalis cauvanis yang menegenepikan Islam, tarian dan nyayian ala hedonisme dan segala macam bentuk kerosakan datang secara halus menjauhkan mahasiswa dari Allah dan Rasulnya. Orang tidak melihat apa yang kita lakukan, orang juga mengutuk kita , tapi Allah dan Rasulnya bersama mereka yang ikhlas , bijaksana dan berusaha untuk membawa agamanya dalam dukungan yang penuh isi yang lengkap dan melengkapkan manusia sesuai dengan tujuan hidup mengabdikan diri kepada-Nya dalam segenap aspek kehidupan.

Kisah ahli siasah sering kali dihikayatkan oleh mediawan kebuntuan, meneropong ruang berita yang menarik untuk mengisi ruang akhbar. Lahir banyak propanganda karutan yang merangka pemikiran ala fitnah yang banyak menimbulkan kerosakan turut mewarnai ruang politik kampus di madrasah muallim. Pertembungan antara falsafah dalam menyertai politik dan keseronokan pesta pilihan raya sering juga menjadi konflik perbahasan sentiasa.

Tidak kurang yang katanya mengamal politik Islam namun runtuh adab Islami bila berdepan lawan demokrasi dan jua mereka yang cauvanis, pendokong kroni-kapitalis, feudal jelmaan baru nasionalisme yang menangiskan dan menggeramkan Fathu Nursi bila mengenangkan kisah jahat gerakan nasionalis Ittihad wa Taraqi dan The Young Turks menjadi penggerak meroboh khalifah Islam 1924. Mereka pendokong nasionalisme movement, merencana gerakan meruntuhkan sistem kekuasaan Islam , menghasut meroboh faham ukhwah Islam dan menanam kiblat ‘bangsa’ jadi falsafah utama, lalu jiwa insan Islami dikotakkan, dijuzukkan, dikepil-kepil, digontel-gontel menjadi bulat lalu dibahagikan mengikut bangsa setelah ditapis dan dibuang licin faham kesatuan Islam dan ummah sebagai asas utama. Mestinya roboh adab dan kosong isi falsafah hidup sebenar fitrah insan khalifah Allah.

Maka sahut Nursi, apa perlu dibuat tanpa Islam mendapat kuasa politik, selamanya menjadi pemerhati dungu sang kekasih di bumi Palestin dihina, dibedil dikejami oleh Yahudi bila tiada kuasa siasah, melihat banyak domba menerjang ummah bila umat dungu tidak kisah siasah? Lihat saja atau cebrukan diri ? Kalau lihat dan kritik mesti tidak ke mana, masih sebegitu jua ! Mahu kalau ceburkan diri apa boleh dibuat, akhirnya tersangkut jua pada dikotomi doktrin memecahkan belah menjadi puak bertelagah menggadai ukhuwah Islamiyah ! Mana yang utama , dasar aqidah Islam atau bertolak ansur dengan kebatilan demi dogma ukhuwah sesama Islam , tidak mahu berpecah ? Fathu Nursi melontarkan persoalan demi persoalan .

Lalu apa prinsip kamu Nursi ? Tinggalkan saja, politik tidak layak bagimu, kamu lembik, orang politik mesti ada al-qawiy dan al-amin. Meninggalkan politik ? Apa maksudmu Gus ? Gustin menjawab, bukan apa Gus, maksud aku bukan kita meninggalkan politik , sebab politik sebahagian dari Islam, maksud aku politik yang melibatkan kepartian yang memerlukan seseorang memimpin badan pelajar yang melibatkan proses pemilihan secara pilihan raya untuk ditangungjawabkan mengurus, mentadbir , bercakap, berdepan dengan masyarakat . Jadi kena dilantik orang yang kuat dan bijak mengurusnya , jangan disilap letak orang yang lemah , kelak nanti menjadi fitnah pada Islam sendiri. Buatlah kerja politik dalam kehidupan harianmu, jangan tidak mengambil tahu langsung persoalan siapa akan menjadi pemimpin kita. Setiap yang kita lakukan seharian adalah politik, ekonomi, adab, sosial dan semuanya itu adalah ibadah kita

Jumaat, 30 Oktober 2009

Muallim Dari Banjaran Titiwangsa : Bahagian I


Tasik Proton City terletak di kaki Banjaran Titiwangsa

Muallim dari banjaran titiwangsa adalah anak-anak didik kesayangan Allah yang disediakan, dilatih dan dimasukkan ilmu untuk mendidik umat kepada mentaati Allah, Namun, disebalik tujuan mentaati Allah itu, banyak ranjau dan ujian sentiasa bermain dalam lingkaran kehidupan masyarkat muallim banjaran titinwangs. Di pagi yang sejuk, Fathu Nursi bercakap kerseorangan , “ patutlah aku tersedar lewat hinggakan subuh hari dah jadi gajah , kabus tebal rupanya, sedap berselimut hinggakan lewat sungguh aku bangun. Inilah realiti yang berlaku di madrasah muallim titwangsa. Paginya cukup sunyi, tiada kedengaran ayam berkokok, sayup-sayup kedengaran suara burung melayang dan hinggap didahan pokok, terkadang bunyi kereta dan lori dari proton city mengganggu kesunyian. Seawal paginya pula, terkadang dendangan azan agak sayup dan kelewatan dari waktunya. Sesekali hanya seorang makmum dan seorang imam yang bersama. Kemana menghilanya muallim di pagi itu!

Diawal pagi yang kabusnya selalu menebal, jarang harinya tiada kabus, seolah-olah berada diawan kaki gunung Fuji yang indah itu. Oh, sesekali mengelamun membayangkan diri di kaki Fuji, gunung tertinggi di Jepun
, terletak di perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji-Yoshida (utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3.776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji.




Namun apa kan daya disini, di kaki Titiwangsa tidaklah seindahnya. Banjaran yang menjadi legeh bagi sungai-sungai utama di semenanjung Malaysia. Di sini terdapat tiga buah pusat peranginan iaitu Tanah Tinggi Cameron, Genting Highland dan Bukit Fraser. Kemuncak tertinggi di banjaran ini ialah Gunung Korbu dan tidak lupa tempat yang menempatkan muallim-muallim ini iaitu Proton City.

Dibalik pemandangan lereng Titiwangsa ini kelihatan kilang kenderaan kecintaan negara, disitu dilonggokan kenderaan buruk, mencacatkan seidikit pemandangan indah itu. Pemodenan sudah mencengkamnya. Namun bukanlah gambaran ini ingin dihikayatkan, disana ada muallim, insan-insan yang mulia dan dimuliakan oleh-Nya kerana sifatnya yang luhur,beriman, berilmu, beradab, bercita-cita, berdedikasi dan soleh orang-orangnya. Indahnya keadaan ini jika menjadi realiti. Namun realitinya sungguh, kalau di kata menyedihkan berbaur harapan yang tidak putus agar semua muallim ini muncul dalam gambaran murni itu.

Fathu Nursi, Anak Didik yang Belajar Untuk Menjadi Pendidik

Disebalik kesunyian Titiwangsa sebagai madrasah mengeluarkan muallim itu, terkadang terdengar juga dentuman muzik indie-rock, Melayu Pop, nasyid hinggalah ke lagu dikir barat yang di buka oleh rakan-rakan rumahnya yang sering juga menodai keamanan Fathu Nursi yang sedang asyik menelaah kembali makalah-makalah berharga ulama dulu dan kontemporari. Katanya ingin kembali merekonstruksi diri yang jauh hanyut dari jiwa dan budaya ilmu. Lalu dibeleknya kitab Ta'lim al-Muta'allim ila Thariqah al-Ta'allum nukilan az-Zarnuji. Menilik kembali dirinya tatkala berjumpa dengan sepotong kata Az-Zarnuji :

“Al-Zarnuji menyatakan, niat dalam menuntut ilmu harus ikhlas, mengharap rida Allah, mencari kebahagiaan di akhirat, menghidupkan agama, menghilangkan kebodohan, dan melestarikan Islam”


Sering itu juga dia teringat bualan dirinya bersama Dr. Mohd sewaktu berbuka puasa, menghabiskan puasa enam lalu. Tanya Fathu Nursi “ust apa sebab yang menjadikan kita tidak bersungguh dalam menuntut ilmu? Jawabnya ringkas “chek balik niat awak” untuk apa belajar, kalau niat sudah tidak betul macam mana nak bersungguh, tentu ada penghalangnya, islahkan niat sentiasa. Fathu Nursi mengelamun, bermonolog, jawapan yang ringkas yang kembali kepada dasar, namun Fathu Nursi masih gusar dan tidak dapat menjadikan jawapan itu sebagai sumber kekuatan baginya untuk mengkoreksi kembali diri.

Seraya itu juga dia membandingkan dengan sebuah makalah Prof Wan Mohd Nor ya’ni Budaya Ilmu. Kata kitab itu “Allah tidak akan memberikan ilmu tanpa sebarang persediaan daripada pihak manusia justeru itu manusia perlu berusaha untuk mendapatkan ma’na, memperoleh ilmu”.

Allahuakbar! Sungguh aku tidak mengerti apa sudah jadi pada ku! Dulunya bersemangat, kini sudah luntur untuk rajin belajar, begitu malas dalam semua benda! Seringkali keluhan Fathu Nursi kedengaran saban masa dan waktu dan terkadang membuatnya mengelamun sendirian. Mengalami konflik jiwa yang berpanjangan. Bisiknya, bagaimana inginku meneruskan ‘pelajaran untuk menjadi pendidik di jalan pendidikan’ kalaulah begini keadaanya.

Argh! Ya Allah, keluarkan ku dari kecelaruan ini Ya Allah, bagaiman aku nak melestarikan Islam, menghilangkan kebodohan, menjadi pendidik di jalan pendidikan kalaulah begini keadaanku, kurniakan aku jawapannya, kerana disebalik az-zulumat ini akau yaqin ada an-nur yang bakal menerangi. Kala itu Fathu Nursi kerap kali keluar bersendirian ke Kuala Lumpur, mengunjungi perpustakaan , kedai-kedai buku, dan sering juga kelihatan di Kinokuniya Bookstore dan Taman KLCC juga masjid bersebelahannya menyendiri entah apa yang dicari. Mungkin mencari kembali ma’na kehidupan yang tidak lagi kelihatan berwarna warni dan indah itu.

Kata-kata Uncle bersongkok hitam dan kulit kehitam-hitaman yang tampak manis itu terngiang-nging ditelinganya. Uncle yang bemulut telus itu senantiasa mejadi pengkritik. Kata-katanya yang menjadi ingatan Fathu Nursi sehingga kini.

Katanya “kamu kena ingat, kamu adalah insan istimewa yang telah terpilih untuk berada dijalur ini (muallim), kamu tidak sama dengan engineer yang hanya berhadapan dengan mesin, belajar dengan mesin, tetapi kamu adalah muallim yang bakal mendidik satu generasi, sekiranya rosak generasi itu dek silapnya kamu dalam mendidik, maka generasi yang dirosakkan kamu akan berterusan mendidik generasi seterusnya menjadi rosak.Maka lahirnya masyarakat yang tiada roh adab dizaman modern liberal ini. Setelah itu apa lagi yang nak diharapkan bila mana semuanya sudah rosak!”

Fathu Nursi sejenak berfikir diringi jiwa zikirnya lalu nalurinya tertanya-tanya dimana perananku yang telah diberi kesedaran ini, peranan mendidik diri sendiri utamanya tanpa meninggalkan rakan-rakan muallim yang lain untuk bersama kearah jalan yang sama iaitu jalan melestarikan Islam dalam jiwa dan mengembalikan roh supaya kembali hidup dan subur dengan Islam seutuhnya.

Muhasabahnya itu menyebabkan dirinya seram sejuk dan menggigil lalu menangis teresak-esak mengenangkan kelemahan dirinya, watak pasrahnya kelihatan, seolah-olah menerima seadanya diri yang lemah itu. Sering juga dia kembali dengan semangat dan membuang watak pasarahnya dengan usaha bangkit kembali, tetapi selang seli dia pasrah kembali dan berulang juga dia kembali yaqin dan bersemangat.

Dia teirngat kembali, tidakkah guru Mus Masyhur mursyid da’wah itu sering mengingatkan kamu dalam makalahnya ? “menyeru manusia kepada Allah adalah kewajipan setiap muslim di setiap masa terutamanya dizaman kita ini yang penuh dengan serangat jahat musuh yang ingin mencabut teras da’wah dari jiwa uamt Islam” . Tidakkah ayat wahyu yang ditanzilkan itu sering kali kamu ulangkan? Surah Fushlat ayat 3 bermain ditelinganya “siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah...”. Tidakkah hadith Nabi itu seirng kamu alpakan? Ruh da’i. Ruh da’wah fardi , roh tarbiyah , roh tsaqafi dan ruh itqan dimana kau cicirkan. Ya Allah tiada yang layak ku pohon pertolongan untuk mengembalikan roh ini melainkan dari-Mu.

Dia takutkan jiwa narcissitic menodainya, gusar menjadikan hatinya mati. Kata Ibnu Athaillah as-Sakandari terngiang dihati dan telinganya ‘"ketika manisnya hawa nafsu menguasai kalbu, itulah penyakit hati nan telah membatu ". Adakah aku sudah mati Ya Allah, Fathu Nursi mengungkit kembali kecelaruan jiwanya. Aku sudah mati Ya Allah, sedangkan badanku masih berjalan kesana sini tetapi aku telah mati Ya Allah. Hidupkan aku kembali Ya Rahman!

Jiwa yang mati dari ruh sosial (bermuamalah), jiwa yang menyendiri yang asyik dan ego dengan diri dek kerana kesan bermain dengan teknologi internet (Facebook etc) dan sebagainya. Narcissistic berlebihan menjadi kan Fathu Nursi sedemikian kata seorang gurunya !

Narcissus by Caravaggio A Boeotian hero whose archaic myth was a cautionary tale warning boys against being cruel to their lovers. (wikipedia).

Entah saya pun tida mengerti. Isitilah narcissistic berasal dari Yunani yang dimaksudkan dengan kecintaan pada diri sendiri secara berlebihan. Mitos Yunani dan Narcissus menjadi kisah utama disebalik wujudnya istilah ini. Narcissus dalam mitos Yunani digambarkan sebagai seorang tokoh yang pada suatu masa telah melihat bayang dirinya di permukaan kolam sehinggakan membuatnya tergila-gila (cinta) akan bayang-bayang sendiri. Mungkinkah ini yang menyebabkan hatinya mati, menjadi tidak conscious lagi pada da’wah membawa muallim ke arah muallim yang benar, penting diri dari ummah dan islah diri kerana serangan narcissism ini. Bahaya yang samar dan perlu diterangkan! Renungan Fathu Nursi di pagi yang suram itu amat menyedihkan, dia sudah meninggalkan dirinya dari ikatan narcissistic atau self-esteem itu , mendapat kesedaran yang hakiki katanya, kembali kepada jiwa muthmainnah yang tidak tergambar ketenangannya...

Rabu, 21 Oktober 2009

THE WORLD TEACHER'S DAY 2009



About World Teachers’ Day


World Teachers’ Day, held annually on October 5th since 1994 - when it was created by UNESCO - celebrates teachers worldwide. Its aim is to mobilise support for teachers and to ensure that the needs of future generations will continue to be met by teachers.


Education International is the global voice of education workers, representing nearly 30 million teachers and other education workers through 401 member organisations in 172 countries and territories.



Building the future


5 October is a day to celebrate teachers and the central role they play in guiding children, youths & adults through the life-long learning process. This year, World Teachers’ Day will focus on the role of teachers within the context of the global financial and economic crisis and the need to invest in teachers now as a means to secure post-crisis regeneration.


It is critical, during these difficult times, to seek mechanisms that protect the teaching profession. It is also crucial, despite the crisis, to ensure that investment in teachers is sufficient and proportionate to the demands made upon them. It is the teaching force with its knowledge, experience and foresight which can bring new insights to global solutions. Join us in celebrating this!




You can looking for the information on the this site, 5 Oct. Wold Teacher's Day







Komen :



Walau pun sudah terlewat untuk menyambutnya namun saya rasa terpanggil untuk berkongsi info. Hari guru sedunia telah berlangsung pada 5 Okt. lepas di mana dapa dilihat bahawa fokus dunia pendidikan masa kini tertumpu kepada peranan guru dalam mengahadapi krisis kewangan global dan krisis ekonomi serta betapa perlunya guru dilaburkan sebagai aset penting dalam usaha untuk menghadapi krisis masa kini.


Saya sempat berborak dengan seorang guru (Abang Azlan) semalam mengenai kurikulum baru yang bakal dilaksanakan disekolah dimana banyak perkara baru yang akan diaplikasi antaranya ilmu ekonomi, sejarah, dan beberapa ilmu lain akan diajar bermula dari tahun satu persekolahan.


Selain itu, bentuk penilaian dari menggunakan gred sepenuhnya bakal diubah kepada sistem penilaian berpusatkan guru. Sistem gred sedia ada bakal diubah dari sistem A,B,C kepada A+, A-, B+ . Suatu perubahan yang dilihat sebagai suatu yang positif dimana penilaian tidak berasaskan peperiksaan semata-mata.
Dunia pendidikan bakal mengalami perubahan.