Selasa, 17 Februari 2015

'EID FITRAH

Assalamu'alaikum..




Roda masa terus berputar meninggalkan kita, berasa cepat masa berlalu, terasa baru sahaja sedetik waktu meninggalkan para 'homo Isalmicus ' (manusia Islam ) yang diasyikkan dengan urusan duniawi yang tidak berkesudahan.. 'Eid Fitrah 1429h sudah pun berlalu. Berkesankah tarbiyah Ramadhan yang dilalui? Adakah 'eid kali ini mengembalikan kita pada setiap detik fitrah tarbiyah Ramadhan yang dilalui? Menjadi persoalan signifikan, perlu dijawab dan hanya diketahui natijahnya oleh empunya hati dan nurani.



SECEBIS KISAH 'EID AL-MUBARAK




'Eid Al-Mubarak dan Ziarah 'Ulama




Seperti kebiasaan tahun-tahun yang lepas, antara rutin yang menjadi kemestian pada pagi hari pertama 'Eid Fitrah saya penuhi dengan menziarahi dua tokoh 'ulama yang disegani , selepas solat 'Eid kebiasaannya diisi dengan ziarah kubur dan terus ke rumah Mursyidul 'Am, Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat di Pulau Melaka dan kemudiannya kerumah Ustaz Muhammad Daud Iraqi (Ketua Dewan 'Ulama PP) di Kubang Kerian. Bernasib baik kerana keduanya merupakan sahabat baik ayahanda dan rumah hanya 2km dari sana.










'Eid Fitri 1 Syawal 1428H




'Eidul Fitri 1 Syawal 1429H


Seperti kebiasaan apabila tiba di perkarangan rumah Tuan Guru, beliau akan berada di sudut depan rumah kayunya yang berwarna hijau, melayani tetamu yang datang menziarah beliau, tetamu dari pelbagai latar belakang, Cina, India, kanak-kanak dan dewasa. Gambaran akhlak seorang 'ulama terpancar tatkala melayani tetamu, tersenyum manis dengan wajah tenang bercampur serius, seolah-olah memikirkan sesuatu, itulah gamabaran wajah Tuan Guru yang saya gambarkan.




Gambar: Mursyidul 'Am mesra bersama non-muslim






Gambar : Mursyidul 'am yang mesra melayani anak-anak kecil.

Saya bermonolog.."Inilah keistimewaan seorang 'ulama yang ikhlas dalam kehidupannya, senantiasa membuat manusia berasa istimewa tatkala berada disampingnya, membuat manusia tertarik dengan kata-katanya, terpesona dengan akhlaknya, terlaku dengan nasihatnya, jika hadith yang mafhumnya menyatakan pada setiap satu abad akan ada seorang tokoh mujaddid (pembaharu) yang akan memperbaharui agamanya (Islam), justeru dalam abad ini dan konteks Malaysia beliaulah orangnya,." monolog bersendirian.





Roda masa terus berputar menangisi diri,


Hari berganti hari,


Bulan berganti bulan Islami,


Tahun berganti tahun yang dilalui,










Begitulah juga hakikat perjalanan hidup manusiawi,


Akan terus dimamah usia dan akhirnya mati,


Terasa perjalanan haraki Islami terus diputar roda masa ini ,


Sejalan dengan perjalanan masa dan duniawi,


Hakikatnya begitulah perjalanan haraki,










Dulu berganti kini,


Tokoh berganti tokoh yang disegani,


Imam Hassan Al-Banna sudah pun pergi,


Namun pemergiannya terus berganti..










Tuan Guru masih di sini,..


Terus berjuang memimpin perjalanan haraki Malizzi (Malaysia),


Terus dan terus dimakan masa ini,


Sedarlah kita suatu masa beliau juga akan pergi...


Sejauh mana kita menghargai,


Mungkinkah ada pengganti?


-Ahmad al-Fatih-






“Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama.” (Fathir: 29)


"Para ulama adalah pewaris para Nabi dan bahawasanya para Nabi tidak mewariskan harta berupa dinar dan dirham akan tetapi yang diwariskan mereka hanyalah ilmu maka barangsiapa yang mengambilnya bererti telah mengambil bahagian terbesar (dariwarisan mereka) ."
(Riwayat Abu Daud. Disahihkan oleh Al-Albani)






Isnin, 12 Disember 2011

Demokrasi baru

Dulu, saya cuba mencari buku ini dibeberapa tempat termasuk MPH Mid Valley dan Kinokuniya KLCC. Malangnya tiada. Akhirnya , saya menjumpainya di internet lalu dicetak dan dijadikan sebuah buku.

Lima bulan lalu, sewaktu saya membacanya, Tunisia masih dalam proses revolusi. Kini penggerak utama politik Tunisia, Rachid Ghannouchi telah menjadi salah seorang dari 100 tokoh pemikir global (Global Thinkers) yang dinobatkan oleh Foreign Policy Magazine. Parti an-Nahdah pimpinan beliau menjadi model baru selepas AKP, Erdogan di Turki.

Baru habis membaca buku ini. Dr Azam Tamimi mengarang buku kira-kira tepat pada masanya. Saat Rachid Ghannouchi menjadi fenomena baru dunia pemikiran politik Islam pada hari ini, buku ini mungkin menjadi bahan penting dalam memahami pemikiran beliau.


Idea beliau bahawa sistem demokrasi adalah manifestasi dari syura Islam dan umat Islam perlu melibatkan diri dalam demokasi menjadi perdebatan penting masa kini. Ia semacam sealiran dengan gelombang Erdogan pada masa lalu.

Memetik nukilan Dr Azam Tamimi dalam menghuraikan idea Ghannouchi dari ungkapan Tawfiq ash-Sahawi, katanya, "When the tree of shura withered in the land of Islam for lack of maintanence, its seeds landed, that is during the Renaissance, in the lands of the Europeans where the tree of democracy grew and blossomed"

Saya percaya, keterbukaan Ghannouchi dalam menganalisa mazhab pemikiran, mengadun dan menyeleksi idea dengan kritis, akhirnya melahirkan ijtihad tersendiri . Ia menjadikan beliau begitu unik.

Dari Nassirism-Arabism kepada Salafis, dari Tabligh kepada ahli falsafah, dan akhirnya menjadi a Muslim democrat.

Sabtu, 3 Disember 2011

'For teachers as well'

Karya Prof Dr. Syed Hossein Nasr ini bukan saja sesuai untuk pemuda Islam bahkan juga sesuai untuk para pendidik yang berada di dunia latihan dan pendidikan bagi membentuk pemuda pemudi Islam.

Dr. Nasr merupakan antara Occidentalists (pengkaji tentang Barat dari perspektif Islam) yang banyak melontarkan idea dan solusi bagi menghadapi cabaran dunia moden hari ini terutamanya bagaimana respon seorang Muslim dalam menguruskan pengaruh pembaratan dalam pemikiran umat Islam.

Inilah cabaran paling besar abad ini. Menghadapi ancaman pemikiran Barat yang merebak dengan pantas. Kita masih lagi tersiksa dengan rendahnya penguasaan ilmu dalam masa yang sama dipengaruhi oleh idea, produk, aktiviti pembaratan bermula dari kenderaan hinggalah teknologi, dari perfileman kepada sastera dan dari falsafah hinggalah ekonomi.

Seperti disebut Muhammad Asad dalam Islam at The Crossroads tentang konsep 'buying' dan 'selling' dalam menggambarkan hubungan kita dengan Barat. Kita hanya mampu membeli apa saja yang datang dari Barat namun kita tidak mampu menjual apa yang kita ada. Akhirnya, kita terperangkap dalam kemunduran dan ketidakcerdasan.

Menghadapi tantangan ini, tanggungjawab dan bebanan terletak di bahu pemuda Muslim. Masa depan dunia Islam bakal dicorakkan oleh generasi muda Muslim.

"It is hoped that the young Muslim, who must carry the responsibility and the burden for the future of the Islamic world upon his or her shoulders, will be able to carry out this responsibility more successfully by gaining a more profound knowledge of the West.

Such a knowledge will not only,enable that person to navigate more successfully upon the very dangerous and stormy sea of the modern world and to protect his or her faith against all of the dangers lurking at every corner, it will also help to formulate, with the help of Allah, the necessary Islamic responses which would guarantee for those young Muslims and for the Islamic world as a whole, for which young educated Muslims will of necessity become leaders, a safe future, and will also safeguard the continuation of a civilization impregnated by the message of the Quran.

But more important than that, such a knowledge will help to defend the religion at the heart of that civilization, a religion which has continued to echo over the ages and is still the vehicle for the truths revealed in the Noble Quran through the Blessed Prophet of Allah who was destined to bring the final plenary message from Heaven to present day humanity." (Syed Hossein Nasr, A Young Muslim Guide to the Modern World).



*Setelah lama menyepi, diriku kembali menulis. Namun, tulisanku kini dan akan datang hanya menceritakan tentang buku. Apa yang aku baca ?

Sabtu, 24 September 2011



Indeed, We have made that which is on the earth adornment for it that We may test them [as to] which of them is best in deed.
(Surah al-Kahfi:7)


[He] who created death and life to test you [as to] which of you is best in deed - and He is the Exalted in Might, the Forgiving.
(Surah al-Mulk:2)









Selasa, 13 September 2011




"I love those who can smile in trouble, who can gather strength from distress, and grow brave by reflection. This the business of little minds to shrink, but they whose heart is firm, and whose conscience approves their conduct, will pursue their principles unto death."
-Leonardo Da Vinci-





Ahad, 11 September 2011





"Some were tried with poverty to such an extent that the only thing they had to wear were loose wraps infested with lice. But they were more happy with that than you are with rich gift." One of the criteria of salafus soleh.
Are you happy (redha) with your trials?







Khamis, 8 September 2011




" What you are going to be tomorrow, you are becoming today"

-John C. Maxwell-


"Hiburkan hatimu dari rasa jemu dan letih, jika hatimu
keletihan, ia menjadi buta"

-Sunan al Daylami-





Ahad, 4 September 2011


"A grain of sand knowing its Selfhood, builds mountains,

A speck of wave realizing its Selfhood, rides Oceans..."

-Allama Dr Muhammad qbal-


"A fool thinks himself to be wise, but a wise
man knows himself to be a fool."


-William Shakespeare-


“One who knows one’s self knows one’s Lord”
(man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu)
-Prophet S.A.W-



Isnin, 29 Ogos 2011


In the West, Intellect is the source of life,
In the East, Love is the basis of life.
Through Love, Intellect grows acquainted with Reality,
And Intellect gives stability to the work of Love,
Arise and lay the foundations of a new world,
By wedding Intellect to Love.

-Allamah Dr. Muhammad Iqbal-






Selasa, 2 Ogos 2011

Mengenali Gerakan Gulen

Salah satu bahan yang mesti dibaca dalam kamus bacaan saya ialah buku-buku biografi tokoh Islam kontemporari.

Selepas membaca buku biografi Rachid Ghannouchi-tokoh gerakan Islam (Renaissance Party) disebalik revolusi Tunisia, kini saya sedang menghabiskan bacaan biografi seorang tokoh sufi-intelektual-pendidik asal Turki. Tokoh itu ialah Fethullah Gulen.

Aliran pemikiran Fethullah Gulen kurang popular di Malaysia-agaknya. Mungkin kerana pendirian beliau yang agak 'apolitical', jarang menjadi bualan masyarakat yang saban hari bergelut dengan ranjau politik-isu.

Cendekiawan di Barat melihat beliau sebagai seorang 'moderate' Islam. Islam yang sederhana ( ikut definisi mereka). Fethullah Gulen telah menginspirasikan sebuah gerakan yang dikenali Gulen Movement.

Beliau dilahirkan di Turki pada 1941 dan menjadi imam, penceramah, guru, penyair dan tokoh terkenal di Turki antara 1970-1980. Kemudian berpindah ke Amerika Syarikat pada tahun 1999.

Aliran sederhana yang dibawa dari tradisi Islam Ottoman dalam gerakan Gulen menjadikan gerakannya sebagai jambatan yang menghubungkan antara Islam dan barat.

Fethullah Gulen mendapat pendidikan awal di sebuah kampung di Turki dan mendapat didikan dan idea pemikiran dari seorang tokoh dakwah-pendidikan terkenal Syeikh Bediuzzaman Said Nursi. Melibatkan diri dalam usrah Nursi (Nursi reading circle) dengan mempelajari ilmu-ilmu asas Islam (Islamic sciences) tanpa memencilkan diri dengan ilmu moden-sains dll.

Ibunya pernah mengajar al-Quran secara sembunyi-sembunyi diera pemerintahan Ataturk-Kemalist government. Era pengharaman pendidikan Islam kepada masyarakat umum.

Pemikiran sufi beliau di inspirasi oleh guru-gurunya seperti Sheikh Muhammad Lutfi Efendi. Permulaan kefahaman beliau tentang aliran sederhana-Islam tatkala membaca tulisan Said Nursi yang mendidik Muslim supaya tak menolak 'modernity' tetapi mencari sumber inspirasi dari teks suci agama untuk memandu kehidupan moden.

Beberapa idea utama yang di promosikan oleh Fethullah Gulen:

1. Membina jambatana antara Islam dan Barat
2. Gerakan pendidikan
3. Gerakan sosial, memberi dana kepada projek sukarela (civil society) atas roh memberi dan berkhidmat.
4. Dialog antara budaya dan agama.
5. Islam bukan teroris
6. Hubungan antara negera dengan agama.

Gerakan Gulen merupakan gerakan sivil-masyarakat madani yang tidak didanai oleh kerajaan atau mana-mana pemerintah. Ianya tak dipengaruhi oleh pemerintah mahupun ideologi-ideologi politik. Gerakan ini memberi kesedaran sosial, intelektual, kesederhanaan Islam dan pendidikan.

Fokus gerkan ini secara keseluruhannya memberi penekanan kepada perubahan individu dan pendidikan individu. Meningkatkan kesedaran kerohanian dan keintelektualan individu dengan mengukuhkan keupayaan dalaman yang akan menguatkan diri untuk menggerakkan perubahan dalam masyarakat.

Gerakan Gulen adalah gerakan yang memberi kesedaran keimanan, non-political, kebudayaan, dan gerakan pendidikan yang menyediakan peluang kepada generasi muda Muslim di Turki untuk kembali kepada Islam.

Tidak hairan jika gerakan ini telah berjaya menubuhkan beberapa universiti , hospital dan lebih 1000 buah sekolah diseluruh dunia serta menjadi 'international movement'. Mungkin kejayaan kerajaan AKP pimpinan Erdogan mentadbir Turki selama ini turut disumbang oleh gerakan yang mempunyai jutaan keahlian ini.

Saya akan mengulas gerakan pendidikan Gulen pada nukilan akan datang. Insha-Allah.

Selasa, 26 Julai 2011

Saya bergelar graduan

Syukur pada Ilahi. Segala perolehan ilmu dan pengalaman dalam pertarungan akal, emosi dan rohani di gedung ilmu universiti selama 4 tahun telah mendapat tuaiannya dengan segulung ijazah. Ijazah pendidikan yang berjaya di gapai mungkin sarat dengan ilmu dan pengalaman. Mungkin juga hanya sekeping kertas kosong tanpa kesedaran.

Saya menyambut hari konvokesyen dengan nada kesyukuran kepada Tuhan dan terima kasih buat ayah,ibu, keluarga, guru-guru dan teman-teman seperjuangan. Kejayaan bukan milik seorang tanpa ada guru dan teman yang menunjukkan jalan, tanpa ada ibu dan ayah yang menyerikan.
.

Segulung ijazah pendidikan bukan milikmu seorang
Melainkan sebuah kejayaan bersama guru dan teman seperjuangan

Segulung ijazah pendidikan bukan milikmu seorang
Melainkan ada amanah yang perlu ditunaikan

Segulung ijazah pendidikan bukan milikmu seorang
Melainkan sebuah amanah keilmuan untuk disampaikan

Perjalanmu tentu keseorang
Melainkan dengan ilmu yang mencerahkan

Perjalananmu masih panjang
Maka dekatkanlah dirimu dengan Tuhan
.


Pesan Murabbi ummah, Dr Siddiq Fadhil kepada graduan, katanya "hari pengijazahan adalah hari bersejarah dalam hayat seorang pemburu ilmu.Ia harus dimaknai secara yang benar sesuai dengan tingginya nilai ilmu dan beratnya amanah keilmuan."

Kini, persoalan selepas yang perlu difikirkan, agar terus istiqamah dijalan kebenaran. Moga menjadi pendidik yang melunas amanah keilmuan. Melunas tugas pendidik khaira ummah.

Jumaat, 22 Julai 2011

Ramadan dan usia

Ulangan hari dan bulan yang kita lalui saling memberi makna kepada sebuah perjalan kehidupan. Berulangnya hari dan bulan yang dilalui menunjukkan semakin hampir usia kita menuju hari tua, semakin dekat menuju kematian dan semakin hampir dengan hari pembalasan.

Kembalinya Ramadan menjadi penanda kepada kita bahawa usia ini sedang dimamah masa. Masa yang pantas berlalu tanpa menunggu. Bebanan fikiran, jiwa dan amalan bertambah.Dosa-dosa juga turut bertambah.

Ramadan tidak memberi apa-apa makna melainkan satu bulan yang hanya mempunyai 30 hari.Ramadan ini tetap dimulai dengan anak bulan, disulam cahaya rembulan dan diakhiri dengan kegelapan. Bintang dan awan seperti adanya.Tidak banyak berubah dari mata kasar manusia.

Yang berubah hanya manusia dan usia. Yang berubah hanya amal dan dosa. Ya, berubah kepada amal bertambah dan dosa berkurang atau dosa bertambah dan amal berkurang. Pastinya kita sendiri yang menentukan natijahnya.

Ramadan dan usia. Bersyukurlah. Usia yang diberikan untuk kesekian kalinya menemukan kita kembali dengan Ramadan. Jodoh ini anugerah Tuhan. Satu anugerah Tuhan tanda cinta kepada hambanya.

Usia kita dijodohkan buat kesekian kalinya dengan Ramadan. Itu bererti peluang. Peluang untuk kembali ke jalan pulang. Pulang menempatkan diri di tempat yang seadanya bagi hamba.

Tidakkah bulan ini dibuka pintu syurga, ditutup pintu neraka dan dibelenggu syaitan durjana.

Lalu usia ini tidak lagi boleh dilengahkan. Usia ini perlu dimanfaatkan. Pertemuan dengan ramadan peluang mengembalikan diri kepada Tuhan yang Maha Menyayangi. Tuhan yang menunggu penyesalan sang hamba. Tuhan yang menunggu sujud dan solat. Tuhan yang menunggu doa dan taubat. Tuhan yang menunggu untuk memberi seluas keampunan.

Ayuh! Kita tak punya banyak masa dan peluang. Usia ini hanya "baina sittin wa sab'in"-antara 60 ke 70 tahun. Jodoh kita dengan Ramadan bukan ketentuan manusia. Mungkin tidak ketemu lagi buat kesekian kalinya di masa hadapan.

Ramadan tidak memberi apa-apa makna. Ramadan menunggu kita untuk memberi makna. Usia dan Ramadan menunggu kita untuk dimaknai. Dimaknai dengan penuh keinsafan dan keberanian, agar usia tidak sia-sia dengan kelalaian.

Ya Allah, ajarkanku taqwa dalam bentuk jihad agar aku tidak kelalaian dek kekosongan masa dan terkalahkan dek kesibukan ketika.
Welcome O Ramadan. Wa Rabbu Tawwabun Syakur.


*Motivasi Ramadan. Nukilan ini dikarang di hening malam 23 Sya'ban, mengharap diberi kesempatan bertemu Ramadan. Amin.

Ahad, 15 Mei 2011

Sang guru

Sempena menyambut hari guru, saya berasa terpina-pina untuk menulis sesuatu. Lalu hadir dari hujung akal yang lemah ini, ingin menulis berkenaan guru dan kesedaran intelektual. Menjadi guru merupakan amanah yang berat. Seperti kata syair Syauqi, sang guru hampir menjadi Rasul utusan.

Sebuah hadith menyebut 'My Lord educated (Addaba) me, and made my education (Ta'dib) most excellent"-Prophet SAW. Allah mendidik (addaba) Rasulullah SAW dengan wahyu agung dan menjadikan baginda manusia terbaik dalam mendidik.

Sang guru jika disedari mempunyai peranan yang teramat rapat dengan tugasan Rasul utusan. Lalu jangan disia-siakan lapangan yang luas itu. Ianya perlu diisi dengan meyampaikan tugas risalah nubuwwah dalam lingkungan kemampuan.

Salah satu peranan guru sebagai golongan terpelajar ialah menjadi intelektual sedar. Sang guru yang celik.

Syed Hussein al-Attas menyatakan “ Intelektual adalah orang yang memusatkan diri untuk memikirkan idea dan masalah bukan kebendaan dengan menggunakan kemampuan akaliahnya..pengetahuan tentang sesuatu pokok permasalahan tertentu atau memiliki gelar tertentu belumlah membuat orang menjadi intelektual walau hal ini seringkali berdampingan;banyak didapati pemegang gelar dan profesor yang tidak memusatkan diri untuk mengembangkan bidang mereka atau berusaha menemukan pemecahan atas masalah tertentu dalam bidangnya."


Antara karya yang pernah saya baca di perpustakaan Upsi suatu ketika dahulu ialah ide intelektual Edward Said, Represantation of the Intelectuals, katanya seorang intelektual adalah “pencipta sebuah bahasa yang mengatakan kebenaran kepada yang berkuasa”.

Edwad Said ada memetik pandangan Antonio Gramsci dalam Prison Note Book yang menyifatkan semua orang adalah intelektual, tetapi tidak semua memainkan fungsi sebagai intelektual. Beliau memasukkan sang guru sebagai intelektual tradisi yang mengulangi kerja yang sama dari generasi ke generasi iaitu mendidik.

Saya usai membaca buku Minda Tertawan, Intelektual, Rausyanfikir dan Kuasa. Di dalamnya terdapat satu komen buat sang guru. Katanya ‘kalau pada tahun-tahun 1950-an, 60-an dan 70-an, guru-guru dianggap sebagai paksi atau tunggak pada masyarakat setempat, bermula pada tahun-tahun 1980-an dan terutamanya 1990-an, profesi dalam bidang pendidikan tidak lagi dianggap sebagai suatu kerjaya terhormat mala che’gu atau guru dianggap tidak sepenting jurujual, peniaga, orang korporat, ahli politik atau pun lain-lain seumpamanya. Apabila guru-guru tidak lagi dianggap tokoh panutan dalam masyarakat setempat, secara automatis, ilmu juga tidak lagi menjadi wahana penting untuk pembangunan masyarakat."

Syed Hussin al-Attas dalam Intelektual Masyarakat Membangun menyatakan bahawa beliau pernah melontarkan idea tentang peranan guru sebagai penggerak intelektual di Kongres Pertama Porfesyen Guru Seluruh Malaysia 1966. Beliau menganjurkan bahawa profesion guru haruslah merupakan inti bagi masyarakat intelektual.

Dr. Ali Syariati pula membawa ide rausyanfikir dengan menyatakan seorang cendekiawan atau golongan terpelajar perlu terjun ke medan masyarakat mencerah dan menyatakan kebenaran. Sang guru dekat dengan gagasan ini.

Manakala Mohammd Natsir pula menjelaskan peranan sang guru sebagai ulul albab perlu serius di hayati. Lalu saya berasa peranan sebagai ulul albab inilah yang menjadi pusat dan menaungi kegiatan keguruan.

Rumusan

1. Peranan sang guru dalam memikirkan masalah-masalah pendidikan dalam lingkungan dan mencari penyelesaian.

2. Mendidik dengan kuasa al-hubb (kasih sayang) dan hikmah, bukan dengan amarah (kemarahan).

3. Peranan sang guru sebagai ulul-albab mesti memainkan peranan sebagai penyampai risalah dalam lingkungannya, mencerah dan mengembalikan generasi kepada penghayatan Rabbani ( rasa bertuhan).

4. Peranan sang guru sebagai pendidik perlu menyatakan kebersamaan dalam setiap inci masalah ummat dan menyampaikan kebenaran sama ada dalam linkungan sekolah-murid, masyarakat dan Negara.

5. Peranan sang guru tidak hanya terikat kepada sang pemerintah, bahkan mereka perlu berani untuk menyampaikan wacana kebenaran kepada sang penguasa dan sesiapa sahaja dengan neutral.

6. Memahami peranan sebagai pendidik Muslim-Mukmin dalam konsep 5M-murabbi-mu'allim-muaddib-mudarris-mursyid.

Wallahu'aklam.

Rujukan:

Reperesentation of the Intelectual- Edward Said.
Intelektual Masyarakat Membangun-Syed Hussein al-Attas
Ar-Rasul Muallim-Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah
Minda Tertawan, Intelektual, Rausyanfikir dan Kuasa-Raja Ahmad Aminullah
Warisan Syariati- Editor Ahmad Sabry Chik
Mohammad Natsir Pendidik Ummah -Gamal Nasir

Sabtu, 26 Februari 2011

Sang guru, dirimu pemilik risalah


Bismillahirrahmanirrahim. Sang guru, dirimu pemilik risalah.

Syukur, dalam kekalutan menguak samudera kehidupan, saya mencari-cari ruang untuk menulis lagi dan lagi. Menulis sudah menjadi bahagian hidup saya. Setelah tiga minggu berada dalam realiti pendidikan sekolah, baru saat ini saya diberi deria rasa yang menjentik hati seterusnya menolak jari-jari ini untuk menulis, Alhamdulillah.

Benar, persediaan untuk berada di alam sekolah, secara tidak langsung sudah saya buat disaat berada pada akhir semester 7. Kami yang terdiri daripada 5 jejaka lelaki Pendidikan Perakaunan telah menyusun atur banyak kerja akademik luar, menjenguh lapangan luar universiti termasuk beramah dengan guru-guru sekolah serta mendapat pendedahan daripada En. Hashim NUTP. Dari situ kami mendapat banyak kritikan dan pendedahan guru-guru lama berkenaan dunia pendidikan.


Telahan tentang ragam dunia sekolah yang didengari tanpa dirasai sebelum ini telah pun saya rasa. Sudah dirasai selama tinggu minggu menjadi 'novice teacher' (guru pelatih). Telahan itu ada benar, ada salah dan ada harapannya. Benar, dunia pendidikan bukan mudah. Benar untuk mengajar perlu mujahadah.

Tuntasnya, harus saya akui dengan jujur, menjadi guru tidak mudah. Pengalaman saya selama tiga minggu disekolah telah mengajar banyak perkara, daripada telatah para pelajar, telatah para guru, ragam sosial, ragam pentadbiran, hinggalah perihal politik-pendidikan dapat saya baca dengan tenang.

Sepanjang itu juga, saya menjadi pemerhati, "seorang 'guru novis' harusnya tidak campur urusan-urusan yang tidak berkaitan dengannya, mendengar untuk mengambil pengajaran dan pengalaman adalah lebih baik", ujar saya dalam benak fikiran.

Berada disekolah yang bukan semua pelajar mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar, tidak punyai keupayaan akal yang sama dengan perlajar cerdik-pandai di sekolah pilihan serta tidak punyai motivasi kental dari institusi keluarga menjadikan saya bertemu dengan sebuah realiti sebenar pendidikan.

Saya masuk ke kelas, upaya setengah daripada mereka untuk belajar berada pada tahap rendah, tidak mampu menulis, bahkan ada yang merangkak membaca seterusnya tiada rasa hormat terhadap guru menjadikan kepala saya pusing memikirkan pendekatan terbaik. Paling menggusarkan saya adalah, masih yang disaat tingkatan 4 tidak mampu membaca al-Quran.

Sang guru, dirimu pemilik risalah.

Sekolah, sang guru adalah intinya, sekolah hanyalah kulit. Sang guru layaknya menyedari diri adalah sang pemilik risalah. Pemilik risalah wahyu yang ditanzilkan. 'No excuse' , itulah kewajipan utama dibawah panji 'inni jaailun fil ardi khalifah'. Saya berasa gusar, sungguh gusar memikirkan sirna masa depan generasi baru ini.

Saat membelek susunan buku-buku ayahanda diperpustakaan rumah, saya bertemu dengan sebuah buku bertajuk 'Kaifa Tashbiha Mu'alliman Mutamayyizan" (Menjadi Guru Cemerlang dan Dirindui). Selayaknya, saya tidak layak untuk menjadi sosok guru dari seuntai syair yang dipetik daripada Syauqi. Syauqi berkata , tiada yang tahu akan nasibku:

"Jadilah seorang guru yang didalamnya ada kemuliaan
Ikatlah tebusanmu, apakah ada orang yang mulia,
Siapa yang mendidik anak kecil maka ia akan disayang
Ku hampir terbang dengan ucapan sang sultan
Sang guru hampir menjadi seorang Rasul utusan
Jika Syauqi benci pada pendidikan, satu saja
Pasti kehidupan akan penuh penderitaan dan kebodohan
Seratus persen guru adalah obor kebaikan
Hingga orang buta menemukan jalan"

Sang guru, dirimu pemilik risalah. Menjadi pemilik risalah perlu dengan wira usaha . Bergelut dengan samudera ilmu memerlukan kesungguhan yang berterusan. Memerlukan tunjuk ajar yang berpanjangan serta memerlukan keikhlasan yang meresapi roh dan jiwa. Kerana guru adalah roh, inti, elemen utama, dan batu pondasi dalam pendidikan.

Belajarlah sambil mengajar, pengalaman tidak terdapat seperti angan-angan, kerjakan dengan berterusan. Mengajar sambil belajar, itu yang terbaik, saat kalian memerlukan pengisalahan, sumbernya tetap disisi Tuhan.

Saya ingin berkongsi banyak perkara perihal pendidikan. Cukup sekadar itu dikesempatan ini. Sehingga sempat menulis lagi.


Ahad, 30 Januari 2011

Bayang-bayang pemuda dibalik revolusi

1. Saya bawa seuntai syair seorang filasuf ulung Islam, Muhammad Iqbal. "..bangunlah engkau wahai pemuda, tidakkah engkau mendengar bisikan Muhammad (SAW), kamulah sebaik-baik umat..". Pastinya, dibalik perubahan, revolusi, reformasi dan revival , bayang-bayang hidup sang pemuda mesti kelihatan ada.

2.Disaat saya menulis 'seni luahan nalar' ini, cuaca di kampung agak ribut dengan angin monsun yang kencang bertiup. Sejuk dan enak cuacanya. Sudah berhari-hari tidak henti-henti. Seolah-olah bertiup bersama alunan revolusi.Dunia-Arab yang gersang itu pula sedang diributkan dengan angin revolusi. Tunisia menjadi pencetus. Sedang merebak ke Egypt ( Mesir) mungkin membarah hingga ke Jordan dan Algeria.

3. Saksikanlah dunia, diktator itu telah rebah menyembah rakyat. Sejarah tidak pernah membohongi manusia. Diktator elit pasti gugur. Tinggal lambat atau cepat. Pemuda yang menjadi bayangan hidup sebuah revolusi itu, menyahut seuntai syair Iqbal, menyedari diri sebaik-baik umat.

4. Seorang ikon revolusi dengan nama gelaran terkenal beliau dimata generasi muda-mudi sebagai Che Guevara pernah menyatakan 'revolusi bukanlah seperti sebiji epal yang gugur setelah ranum masak. Sebaliknya kamu yang mesti menggugurkannya'.

Kredit kepada Revolusi du Jasmin

5. Itu yang berlaku di Tunisia. Muda-mudi mereka telah menggugurkan biji-biji epal-berupa pemerintah yang telah busuk, berulat dan hitam yang berpuluh-puluh tahun bertahkta, tergantung di pohonan tiada sebarang untung bahkan merugikan. Suara 'revolusi' lah yang menggugurkannya.

6. Diktator itu jatuh jua. Dikala berkuasa dia menindas dan menyalahguna kuasa. Memenjara ilmwuwan, membodohkan mahasiswa. Menyepit kejap mulut para intelektual masyarakat.

7. Untuk apakah revolusi ? Revolusi langsung tiada erti jika runtuh diktator diganti diktator pula. Jika lenyap penyembahan kepada sesama manusia dan diganti kepada penyembahan kepada manusia lain pula. Jika keluar dari mulut tirani masuk ke mulut liberalisme. Tiada makna. Kosong, tiada erti sebuah revolusi.

8. Revolusi yang kita mahu untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, kerosakan peradaban Barat. Bebas dari terjajah minda. Revolusi artinya membawa perubahan yang melahirkan perhambaan manusia hanya kepada Allah dalam segenap lapangan kehidupan.

9. Almarhum Syeikh Fathi Yakan dalam bukunya 'As-Syabab wa Taghyir' (Pemuda dan Revolusi-perubahan) menggariskan bahawa, 1. Revolusi Islam adalah revolusi total-manhaj menyeluruh merangkumi segala perihal kehidupan dan universal; 2. Revolusi yang bersifat aqidah-jiwa aqidah dimana revolusi tidak dianggap tujuan, tetapi sebagai alat untuk mencapai perintah Illahi dan

10. Seterusnya garisan revolusi ke-3 menurut syeikh-haraki tersebut adalah, revolusi Islam adalah revolusi kemanusiaan -jalan menuju kebaikan tidak bisa ditempuh dengan cara merosakkan manusia, kemudahan dan kepentingan awam, tidak membangun piramid dengan tengkorak dan darah manusia.

11. Pengakhiran sebuah revolusi ialah membawa kesejahteraan di mata dunia dan di darul akhirat. Wahai Tuhan. Bantulah aku untuk bersedia. Bersedia sentiasa untuk menyahut seruan sebaik-baik umat.

12. Saya tutup nukilan ini dengan nasihat berat dari Muhammad Iqbal. Nasihat yang kena pada realiti diri. Moga ianya menjadi penguat hati. Sajaknya berbunyi :

"Telahkah engkau siap dizaman ini,
Untuk menyambut sang surya diufuq fajar,
Kelopak matamu terlalu berat untuk menyambut azan pagi,
Subuhmu masih tenggelam dalam selimut tebal,
Sejadahmu putih bertabur debu,
Mihrabmu dipenuhi sarang laba-laba,
Khatibmu digiring kemimbar dengan pedang kayu,
Pekikan jihad tidak lagi membahana di kalbumu,
lalu.. dan lalu,

Sudah engkau siap diabad ini..?

Sabtu, 6 November 2010

Educational Philosophy of Iqbal

Preface. 1. Introduction. 2. Iqbal's philosophy of life: i. Evolution of Iqbal's outlook. ii. Man - his position and role in Iqbal's philosophical scheme. iii. Concept of 'Khudi'. iv. Factors or essentials of 'Khudi'. 3. The educational philosophy of Iqbal: i. Iqbal's exposition of educational environment. ii. Iqbal's educational viewpoint. iii. Aims of education. iv. Dimensions of educational activity. 4. Analysis of Iqbal's educational philosophy: i. Synthesis in Iqbal's approach. ii. Unity and uniqueness in Iqbal's outlook. iii. Conclusion. Bibliography.

"The present study is a treatise which deals with Educational philosophy of Iqbal. The author has endeavoured to project Iqbal's philosophy of education and its bearing on different dimension of educational activity. Present work is an effort to bring-out this point of view in an elaborate and systematic manner.

The author has highlighted objective and critical approach of Iqbal with reference to both modern and Madrasa Education. In this backdrop, author of the book points out that the intensity and motivating feature of educational philosophy of Iqbal is that it gives due consideration to the dominant tendencies of idealism, naturalism and pragmatism. And fuses these into a unity of thought that would give rise to a theory of education which would suit the needs of the day and satisfy all round aspirations of human soul."


From: Educational Philosophy of Iqbal

Khamis, 15 Julai 2010

Bertemu Tariq Ramadan

Baru berkesempatan membuat review wacana Prof Tariq Ramadan baru-baru ini. Sebelum ini saya belum pernah mendengar dan melihat secara 'live' ucapan beliau. Hanya pernah membaca buku nya yang bertajuk The Western and The Future of Islam In The West' . Huraian tentang Towards Reform of Islamic Education in the West' memuatkan kupasan menarik beliau. Huraian tentang 'Education of Heart dan 'Education of Mind' cukup menarik minat saya.

Cukup teruja mendengar ucapan menghurai sekitar nilai kebebasan dalam kerangka Islam. Tambahan pula cucu Hassan al-Banna ini merupakan seorang tokoh baru dunia Islam dan intelektual Islam yang giat membuka ruang interaksi antara Islam dan Barat.

Pertama kali juga saya teruja tatkala sampai ke ISTAC (International Institute of Islamic Thought). Bangunan ala-ala Andalusia, Granada mengingatkan saya seakan-akan berada di zaman emas Islam Andalusia. Rekaan bangunan dihiasi lukisan-lukisan menarik era kegemilangan Sultan Muhammad al-Fateh sungguh menghidupkan suasana.


Memabaca dan melihat gambar ISTAC sebelum ini sungguh tidak jauh dari realiti. Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas memang benar seorang tokoh Falsafah Islam yang hebat merangka sebuah bangunan yang cukup indah.

Tajuk wacana di ISTAC pada malam itu bertajuk Is Liberty An Islamic Value ? Persoalan yang timbul ialah bagaimana kita berinteraksi dengan kebebasan? Boleh dikatakan ramai yang hadir terdiri dari pelajar ISTAC ( pelajar M.A dan PHD ), Profesor, ahli akademik, golongan 'middle-upper class' yang agak moden dan golongan mahasiswa seperti saya.

Muqaddimah wacana Prof Tariq meningatkan para pendengar agar tidak menepuk tangan atau ber 'takbir' apabila beliau memberi ucapan. Inginkan suasana yang tenang. Kata beliau 'Takbir' is beyond of what you say in louder. Takbir sepatutnya lahir dari perasaan yang meresap dihati. Tidak perlu melaungkannya. Kritikan pertama beliau. Kritikan kedua 'dont only to repeat what the Quran, Hadith, ulama say, but to think". Jangan hanya pandai 'quote' ayat-ayat al-Quran dan Hadith atau kata ulama tanpa memahami maksud , tanpa berfikir dan mengkaji.


Kebebasan Intipati Kehidupan

Kemudian sekitar ucapan beliau yang sepat diambil ialah nilai kebebasan dalam Islam sudah lama dihuraikan. Kalimah "Laa Ilaha Illalah is to liberate yourself from any evil". Kebebasan merupakan intipati kehidupan manusia Islam, 'freedom of being is the essence'. Tidak berlawanan dengan fitrah. Semua inginkan kebebasan. Tetapi setiap dari manusia perlu bertanggungjawab terhadap kebebasan yang diterima dari Tuhan. "If you are free you will have responsibity'. Bertanggungjawab untuk diri , sesama manusia (termasuk non-muslim) , agama dan Tuhannya.

Mengingatkan saya tentang apa yang disebut oleh Syeikh Yusof al-Qardawi. Kebebasan boleh diibaratkan seperti pisau. Boleh digunakan untuk keburukan dan kebaikan.
Kebebasan Sebenar Melepaskan Diri Dari Ego

" True liberty is freedom yourself from ego, liberate yourself from ego, evil and etc". Kebebasan yang sebenar ialah membebaskan diri kita dari perasaan ego, kejahatan, dosa, maksiat dan perbuatan buruk lain. Kerana semua manusia secara fitrah tidak suka kepada keburukan dan sukakan kebaikan.



Kebebasan dalam Kerangka Maqasid Syariah

Walau pun kebebasan merupakan 'natural needs'. Tetapi keperluan azali manusia perlu dipandu dengan objektif. Maqasid Syariah ( objektif pengaplikasian syariah) memandu kebebasan manusia. Kebebasan perlu dilihat dari kaca mata berasaskan maqasid. Termasuk darinya ialah perkara Darurah seperti agama , nyawa, maruah, keturunan, aqal. Katanya kebebasan tidak bermaksud semua manusia boleh melakukan sesuka hati sehingga menggadaikan maruah. Kebebasan dipandu maqasid 'protect the dignity'. Menyelamatkan maruah manusia. "The diginity is to try protect your best, good with what you know".

"Put rules (obejctives) to protect the freedom".

Akhir

Saat akhir sesi pertanyaan timbul satu suasana intelektual yang cukup teruja. Begitu ramai berrtanya dan berhujjah. Sehingga wujud satu provokasi dari seorang pemuda yang mengkritik Prof Tariq Ramadhan mengatakan apa yang dikatakannya tentang kebebasan tidak ada dalam dalil dan jauh menyimpang dari pemikiran datuknya Hassan al-Banna. Agak tegang tetapi beliau penuh profesional menjawab.

Tamat pengalaman menghadiri wacana yang penuh ibrah dan meluaskan pandang alam kehidupan.

Isnin, 12 Julai 2010

Deschooling Society

By : Dzulkifli Abdul Razak

THE issue of the possible abolishment of examinations will be the subject of round-table talks soon. This is indeed refreshing as the debate is long overdue. But we must first examine the context of the discussion.

Almost 40 years ago, Ivan Illich broached the subject in Deschooling Society (1971) where he made a profound observation about what modern-day "school" and "education" is all about.

He wrote: "The pupil thereby 'schooled' to confuse teaching with learning, grade advancement with education, a diploma with competence, and fluency with the ability to say something new." This is no different when "medical treatment is mistaken for healthcare, social work for the improvement of community life, police protection for safety, military poise for national security, the rat race for productive work".

Given this as the context, it would seem that we may be barking up the wrong tree thinking that examinations are the root of the problem of present-day school and education.


We tend to forget that examinations are just one part of an elaborate system called school and/or education, and tests are in reality about gauging the impact of the system on learning.

If the system is inherently "bad", it can never be good enough, no matter how good the measure.

We are missing the woods for the trees! To further illustrate this, Illich said: "Health, learning, dignity, independence and creative endeavour are defined as little more than the performance of the institutions which claim to serve these ends, and their improvement is made to depend on allocating more resources to the management of hospitals, schools and other agencies in question."

Deschooling Society calls for a much deeper discussion on what scholarship is all about, which is particularly relevant in this increasingly dehumanising and unsustainable society that schools (including universities) are perpetuating since the emergence of the industrial revolution.


There is one historical context that is missing in today's discussion, namely the purpose of modern-day school and education.The current schooling system has evolved over time to meet the needs of the industrial age as it moved away from the agricultural age.

Industrialisation was "perfected" in the 19th century to resemble a factory assembly line -- some even sponsored by the powerful and famous of the time to support production.


It is therefore no coincidence that schools including tertiary institutions are organised like factories. The "factory" metaphor is more pervasive today when the marketplace has practically taken over the raison d'ĂȘtre of modern-day education.

We still hear, for example industrial demand for a tailor-made graduate who is regarded as nothing more than the "product" of the education system. In moulding this product, examination is a mere process of "quality control" that segregates the ones who meet the "benchmark" set by the marketplace from those who do not.

We talk in the language of the industry of creating "human capital" -- when education is all about nurturing a "human being".

It emphasises "employability" rather than "liveability", where "earning" becomes more important the "learning". Courses that are deemed to be marketable are given priority over the non-marketable.

As a result, two (of four) pillars of learning -- "learning to be" and "learning to live together" -- as advocated by United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation are neglected. Our biggest concern should be the direction that "education" is heading in the post-industrial age when "new" physical and mental structures are fast emerging to replace the old ones across the board -- socially, economically and politically.

Is it sufficient to have a New Economic Model (NEM) when education is lagging behind and based on an old, outdated and dysfunctional model? Can the transformational demands of the NEM be met with an education system that is no longer compatible? Can "inclusiveness" be effectively achieved when we fail to create a unified, if not, a singular educational system? These are but some of pertinent questions that go far beyond the issues related to examinations alone.

They strike deep at the heart of the purpose of education in the coming era. What is more pressing is transforming the current system much like the change from agricultural to the industrial age some 150 years ago.

And this is what the present discussion should be focused on. We may well decide to do away with a few examinations but we need a transformational change in line with the needs of an advanced nation.


*The writer is vice chancellor of Universiti Sains Malaysia. Taking from NST Perspective:Deschooling Society



Isnin, 2 November 2009

Muallim Dari Banjaran Titiwangsa : Bahagian II




Fathu Nursi, Nur dan Kisah Muallim al-Habab
Makna asal ialah bersih, bening dan orang Arab menyebut istilah bening itu untuk gigi yang putih, dan ada yang menyatakan ia diambil dari kata al-Habab, yaitu air yang meluap setelah turun hujan yang lebat. Itulah katanya ma’na al-mahabbah, istilah yang dirumuskan sebagai luapan hati dan gelojaknya disaat dirundung keinginan untuk bertemu sang kekasih. Ada juga yang mengertikannya sebagai tenang dan teguh. Itulah maksud yang sempat di ceduk Fathu Nursi dari Raudhah al-Muhibbin Wa Nuzhah Al-Mustaqim (Taman Orang-Orang Yang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu) , nukilan Ibnu Qayyim al-Jauzi. Termenung Fathu Nursi dan terlihat cebisan kata mengenai perihal kaum hawa yang diambil dari Men Are From Mars and Women Are From Venus, John Gray, katanya , ”women talk about problems to get close and not necessarily to get solution”.

Aku tidak pernah ingin mendengar perasaannya, aku hanya tahu ingin mencari penyelesaian, aku tidak pernah inign mendengar luahan hatinya menerangkan perasaannya, yang aku tahu hanya ingin membantu menyelesaikan masalahnya wal hal sebenarnya dia hanya ingin rapat denganku, mungkin inikah yang menyebabkan dia lari dariku Nursi ? Tanya Matt Arpslan sahabat muallim kacukan Melayu-Turki yang sedang dalam retakan mahabbah dengan sang kasihnya, memohon nasihat Nursi.

Bukan satu kes aduan seperti ini diajukan kepada Nursi, di madarasah Titiwangsa ini sudah membuak-buak dan menggebu-gebu budaya hedonisme-mahabbah (keseronokan cinta) berlegar tanpa kesudahan. Terserempak disana sini berkepit, berdua-duan, berkereta-kereta-an berbonceng-boncengan dan segala hal yang menyedihkan hati Nursi. Sering juga Nursi mendengar rungutan penduduk Taman Muallim bersebalahan madarasah Titiwangsa yang mengeluh ’inikah muallim yang ingin menjadi pendidik, aduh buruk adabnya berdua-duaan kesana sini”.

Tasik Titiwangsa di kaki banjaran menjadi tempat strategik indah untuk mereka berdepet (berduaan) dan Tasik Titiwangsa itulah juga sering menyaksikan tingkah bodoh-hedonis mereka saban ketika dan suasana. Kritis Nursi berfikir menyalahkan diri sendiri, masyarakat, pemerintah yang tidak pernah bersungguh dalam usaha enjoining the right and opposing the wrong” . Menjadi masalah yang menakutkan Nursi kerana sedar-sedar dirinya bahawa mereka ini adalah muallim yang bakal mencorak manusia, bukan merekayasa bangunan, mencipta robot atau mesin, berhujjah di parlimen, berdebat dimahkamah, membedah atau merawat penyakit zahiriah semata, bahkan mereka ini pembentuk peribadi generasi insan yang bertamaddun tinggi.

Bukan aku kata tidak boleh bermahabbah Matt! Tapi pandai-pandaila kamu menguruskannya agar tidak menyalahi batas syariat Matt, mahabbah itu fitrah manusia, masakan kamu boleh melawan fitrah, fitrah itu bersih tapi jika kamu tak uruskan dengan betul yang bersih boleh jadi hitam Matt ! Percaya Matt kamu boleh mencari jalan selesaikan, lamarlah terus sang kasih kamu tu, itu lagi elok dari kamu menjadi hedonis-mahabbah yang tak ketahuan itu. Nasihat Nursi.

Fathu Nursi teringat kembali dirinya yang sudah bertahun tidak berhubung dengan teman lamanya. Uruskan soal ini dengan baik Nursi, tidak salah jika kamu tahu batasnya dan menjaga nafsu dari tergelincir ! Nasihat murabbi Nursi, Pak Fustat. Nursi juga sedar dirinya tidak dapat lari dari perasaan mahabbah itu, namun dia sedar bahawa dia mesti bermujahadah (berjihad) menguruskkannya dengan baik agar tidak tersungkur ditengah jalan. Sudah bertahun Fathu Nursi tidak menghubunginya, tiba-tiba ingatannya kembali menyinar, Fathu Nur, insan kenalan Nursi, kembali terbayang diingatannya.


Insan yang baik budinya, berilmu, cerdik, beradab dan sopan itu telah mengikat hati dan jiwa Nursi. Fathu Nur mahasiswi yang masih menuntut di VSMU (Vitebsk State Medical University) , nun jauh di kota Russia telah menjadi pilihannya. Russia negara terbesar dunia meliputi 17,075,400 kilometer persegi menjadi pilihan Fathu Nur. Fathu Nursi kagum dengan Rusia di sudut pendidikannya kerana pendidikan diberikan secara percuma dan dijamin untuk semua warganegaranya. Kadar literasi (boleh membaca dan menulis) rakyatnya mencecah 99.4% dan kemasukan ke pendidikan tinggi begitu hebat persaingannya dan kualitinya. Pendidikannya amat ditekankan dalam bidang sains dan teknologi , medical, matematik, saintifik, ruang angkasa (aerospace) dan sebagainya. Inilah sedikit kelebihan negara sosialis yang menjaga kebajikan rakyat.

Tetapi disebalik keghairahan menuntut ilmu hard science itu terkadang kerisauan menjenguh Nursi dan hampir pasti katanya tiada diseimbangkan dengan ilmu mengurus diri ( fardhu ain) dan ilmu Islamnya. Kalau mahu hendaknya mencari sendiri di halaqah-halaqah mingguan dan majlis-majlis ta’lim. Itulah pesannya kepada Fathu Nur suatu ketika dahulu, agar diseimbangkan ilmu mengurus diri (fardhu ain) dan ilmu mengurus sistem (fardhu kifayah) agar ma’na sebenar kehidupan dapat selidiki dengan terang dan benar. Namun terkadang perasaannya tertanya-tanya bagaimana harusnya seorang muallim dan seorang doktor boleh berada dibawah satu bumbung, banyak perbezaannya, usah dicari perbezaan Nursi!Carilah persamaannya. Perbezaan saling melengkapkan manusia Nursi, bisik hati kecilnya.

Kota Russia, kota soviet sosialis, kalau Ernesto Che Guevara pejuang intelektual revolusi Marxis Argentina menjadi ikon revolusi, disana ada pejuang sosialis yang menjadi founder Union of Soviet Socialist Republics (USSR) ,Vladimir Illich Lenin seorang revolusioner komunis Rusia, teringat Fathu Nursi cerita sejarah Rusia dari guru sejarahnya dahulu. Kota negara sosialis itu menjanjikan pelbagai ujian mental dan fikrah, disebalik keindahan bagunan gereja St Basil yang indah itu namun tidak dapat ianya menandingi keindahan Masjid Aya Sofea Turki dan negara berideologi sosialis ini begitu maju dan moden. Begitupun Rusia mempunyai lebih ramai penduduk Islam berbanding Jordan dan Libya.




St Basil Russia


Mampukah Fathu Nur mengekalkan fitrah dan fikrahnya seperti dulu. Kerana Nursi sememangnya gusar dek kerna sudah ramai temannya yang tersungkur. Dulunya amat baik di sekolah agamanya, lalu berubah dek dikuasai senjata hedonisme dan persekitaran yang merosakkan. Lalu fikiran positif menyinari benak fikirnya, “orang yang kuat jiwa, faham, ikhlas, amal dan berukhuwah dalam satu keterikatan rantai organisasi Islam insha-Allah akan dijaga oleh-Nya”, moga-moga Fathu Nur istiqamah, sahutnya. Dulu temannya itu pernah menguatkan hati dan jiwa imannya dengan nasihat-nasihat dan surat-surat ringkas yang memurnikan iman, kata-kata Syeikh Bediuzzaman Sa’id Nursi sering diingatkannya.

"Iman memang mengandungi sebiji benih maknawi yang terbelah daripada pohon 'Tuba' yang kedapatan di syurga. Manakala kekufuran pula menyembunyikan bijian maknawi tersebut yang telah diludah oleh pohon 'Zaqqum' neraka jannam. Oleh itu, keselamatan dan keamanan hanya terdapat di dalam Islam dan Iman...Larilah dari perkara yang menjejaskan keikhlasanmu sebagaimana engkau lari dari ular dan kala".

Nursi benar-benar menjaga hubungannya agar tidak tersungkur di tengah jalan , berperang dari bermain dengan ayat-ayat fitnah dan bertenggek kebodohan di peti suara telefon mahupun mesej, kerna dia sedar siapa dirinya disebalik tabir Islamic movement, perlu menjadi insan yang senantiasa conscious terhadap tarbiyah roh agar tidak menjadi fitnah pada masa kini dan mendatang. Itulah secebis kisah mahabbah yang tersimpan dalam kotak sejarah hidup Fathu Nursi yang bakal menjadi muallim buat sedikit masa lagi. Menjadi muallim bukan semudah yang dikata, minatnya perlu kemas rapi tersemat di hati dan jiwa, citanya perlu tinggi setinggi Banjaran Titiwangsa, pengorbanannya usah dikira , perlunya sehebat dan setinggi Hassan al-Banna model muallim da’ie berjiwa cita, melalui sepak terajang dunia global dan liberal tidak semudah muallim yang reti bersahaja, tergadai anak bangsa dek alpa dunia.


Kubik Siasah Da’wah Muallim

Sun Tzu berstrategi dalam peperangan, strateginya dihikyatkan dalam buku the Art of War menajdi rujukan ahli siasah Gustin! Kamu ada idea tak Gus tentang isu yang terbaru ? Aku dah buntu ler . Mau tidak jangan jadi politikus ala Machiaveli, kita politikus Islami jangan terpengaruh dengan idea karya The Prince Machiaveli, jangan sampai dek kerana ingin mencapai matlamat siasah kita menghalalkan semua cara termasuk yang melanggari syariat, sahut Fathu Nursi kepada Gustin Prama Dewi, sahabatnya dari Indonesia yang memang cerdik dalam politik baru dan strategi berdepan dengan lawan demokrasi itu.

.

Di madrasah muallim ini, para muallimnya hanya sekitar 30% yang sedar kepentingan politik kampus apatah lagi faham mengenai apa yang Islam mahu dari politik, sahut Gustin. Gelombang politik mahasiswa pada kali ini amat kuat, mahasiswa ingnkan anjakan baru dalam petadbiran tertinggi yang telah dicanang dengan gambaran lemah sejak beberapa tahun lalu. Sahut Gustin, kita bukanlah hanya ingin mendapatkan kuasa Nursi , disebalik kuasa ada kewajipan yang lebih besar yang tidak tetanggung pun oleh bukit bukau utnuk memikulnya, Allah memilih manusia untuk memikul tugasan da’wah dan merealisasikan ayat-ayat Allah di muka bumi ini. Berat, sungguh berat.

Komitmen jihad siasah tidak boleh ditinggalkan seperti jug kita berjihad dalam jihad ta’lim. Golongan al-mala yang disebut dalam al-Quran dan dihuraikan oleh Prof Dr. Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya Usul Da’wah merupakan penentang tradisi terhadap cita-cita Islam. Al-Mala inilah golongan yang membentuk dan mempunyai circle of influence untuk merosakkan pemikiran masyarakat sama ada dalam bentuk hedonisme , kuasa, penipuan , kronisme , rasuah dan lain-lain.

Golongan al-mala’ dalam pentadbiran mahasiswa perlu diruntuhkan Nursi supaya nanti mereka kehilangan circle of influence untuk mempengruhi mahasiswa dengan joget , faham nasionalis cauvanis yang menegenepikan Islam, tarian dan nyayian ala hedonisme dan segala macam bentuk kerosakan datang secara halus menjauhkan mahasiswa dari Allah dan Rasulnya. Orang tidak melihat apa yang kita lakukan, orang juga mengutuk kita , tapi Allah dan Rasulnya bersama mereka yang ikhlas , bijaksana dan berusaha untuk membawa agamanya dalam dukungan yang penuh isi yang lengkap dan melengkapkan manusia sesuai dengan tujuan hidup mengabdikan diri kepada-Nya dalam segenap aspek kehidupan.

Kisah ahli siasah sering kali dihikayatkan oleh mediawan kebuntuan, meneropong ruang berita yang menarik untuk mengisi ruang akhbar. Lahir banyak propanganda karutan yang merangka pemikiran ala fitnah yang banyak menimbulkan kerosakan turut mewarnai ruang politik kampus di madrasah muallim. Pertembungan antara falsafah dalam menyertai politik dan keseronokan pesta pilihan raya sering juga menjadi konflik perbahasan sentiasa.

Tidak kurang yang katanya mengamal politik Islam namun runtuh adab Islami bila berdepan lawan demokrasi dan jua mereka yang cauvanis, pendokong kroni-kapitalis, feudal jelmaan baru nasionalisme yang menangiskan dan menggeramkan Fathu Nursi bila mengenangkan kisah jahat gerakan nasionalis Ittihad wa Taraqi dan The Young Turks menjadi penggerak meroboh khalifah Islam 1924. Mereka pendokong nasionalisme movement, merencana gerakan meruntuhkan sistem kekuasaan Islam , menghasut meroboh faham ukhwah Islam dan menanam kiblat ‘bangsa’ jadi falsafah utama, lalu jiwa insan Islami dikotakkan, dijuzukkan, dikepil-kepil, digontel-gontel menjadi bulat lalu dibahagikan mengikut bangsa setelah ditapis dan dibuang licin faham kesatuan Islam dan ummah sebagai asas utama. Mestinya roboh adab dan kosong isi falsafah hidup sebenar fitrah insan khalifah Allah.

Maka sahut Nursi, apa perlu dibuat tanpa Islam mendapat kuasa politik, selamanya menjadi pemerhati dungu sang kekasih di bumi Palestin dihina, dibedil dikejami oleh Yahudi bila tiada kuasa siasah, melihat banyak domba menerjang ummah bila umat dungu tidak kisah siasah? Lihat saja atau cebrukan diri ? Kalau lihat dan kritik mesti tidak ke mana, masih sebegitu jua ! Mahu kalau ceburkan diri apa boleh dibuat, akhirnya tersangkut jua pada dikotomi doktrin memecahkan belah menjadi puak bertelagah menggadai ukhuwah Islamiyah ! Mana yang utama , dasar aqidah Islam atau bertolak ansur dengan kebatilan demi dogma ukhuwah sesama Islam , tidak mahu berpecah ? Fathu Nursi melontarkan persoalan demi persoalan .

Lalu apa prinsip kamu Nursi ? Tinggalkan saja, politik tidak layak bagimu, kamu lembik, orang politik mesti ada al-qawiy dan al-amin. Meninggalkan politik ? Apa maksudmu Gus ? Gustin menjawab, bukan apa Gus, maksud aku bukan kita meninggalkan politik , sebab politik sebahagian dari Islam, maksud aku politik yang melibatkan kepartian yang memerlukan seseorang memimpin badan pelajar yang melibatkan proses pemilihan secara pilihan raya untuk ditangungjawabkan mengurus, mentadbir , bercakap, berdepan dengan masyarakat . Jadi kena dilantik orang yang kuat dan bijak mengurusnya , jangan disilap letak orang yang lemah , kelak nanti menjadi fitnah pada Islam sendiri. Buatlah kerja politik dalam kehidupan harianmu, jangan tidak mengambil tahu langsung persoalan siapa akan menjadi pemimpin kita. Setiap yang kita lakukan seharian adalah politik, ekonomi, adab, sosial dan semuanya itu adalah ibadah kita

Jumaat, 30 Oktober 2009

Muallim Dari Banjaran Titiwangsa : Bahagian I


Tasik Proton City terletak di kaki Banjaran Titiwangsa

Muallim dari banjaran titiwangsa adalah anak-anak didik kesayangan Allah yang disediakan, dilatih dan dimasukkan ilmu untuk mendidik umat kepada mentaati Allah, Namun, disebalik tujuan mentaati Allah itu, banyak ranjau dan ujian sentiasa bermain dalam lingkaran kehidupan masyarkat muallim banjaran titinwangs. Di pagi yang sejuk, Fathu Nursi bercakap kerseorangan , “ patutlah aku tersedar lewat hinggakan subuh hari dah jadi gajah , kabus tebal rupanya, sedap berselimut hinggakan lewat sungguh aku bangun. Inilah realiti yang berlaku di madrasah muallim titwangsa. Paginya cukup sunyi, tiada kedengaran ayam berkokok, sayup-sayup kedengaran suara burung melayang dan hinggap didahan pokok, terkadang bunyi kereta dan lori dari proton city mengganggu kesunyian. Seawal paginya pula, terkadang dendangan azan agak sayup dan kelewatan dari waktunya. Sesekali hanya seorang makmum dan seorang imam yang bersama. Kemana menghilanya muallim di pagi itu!

Diawal pagi yang kabusnya selalu menebal, jarang harinya tiada kabus, seolah-olah berada diawan kaki gunung Fuji yang indah itu. Oh, sesekali mengelamun membayangkan diri di kaki Fuji, gunung tertinggi di Jepun
, terletak di perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji-Yoshida (utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3.776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji.




Namun apa kan daya disini, di kaki Titiwangsa tidaklah seindahnya. Banjaran yang menjadi legeh bagi sungai-sungai utama di semenanjung Malaysia. Di sini terdapat tiga buah pusat peranginan iaitu Tanah Tinggi Cameron, Genting Highland dan Bukit Fraser. Kemuncak tertinggi di banjaran ini ialah Gunung Korbu dan tidak lupa tempat yang menempatkan muallim-muallim ini iaitu Proton City.

Dibalik pemandangan lereng Titiwangsa ini kelihatan kilang kenderaan kecintaan negara, disitu dilonggokan kenderaan buruk, mencacatkan seidikit pemandangan indah itu. Pemodenan sudah mencengkamnya. Namun bukanlah gambaran ini ingin dihikayatkan, disana ada muallim, insan-insan yang mulia dan dimuliakan oleh-Nya kerana sifatnya yang luhur,beriman, berilmu, beradab, bercita-cita, berdedikasi dan soleh orang-orangnya. Indahnya keadaan ini jika menjadi realiti. Namun realitinya sungguh, kalau di kata menyedihkan berbaur harapan yang tidak putus agar semua muallim ini muncul dalam gambaran murni itu.

Fathu Nursi, Anak Didik yang Belajar Untuk Menjadi Pendidik

Disebalik kesunyian Titiwangsa sebagai madrasah mengeluarkan muallim itu, terkadang terdengar juga dentuman muzik indie-rock, Melayu Pop, nasyid hinggalah ke lagu dikir barat yang di buka oleh rakan-rakan rumahnya yang sering juga menodai keamanan Fathu Nursi yang sedang asyik menelaah kembali makalah-makalah berharga ulama dulu dan kontemporari. Katanya ingin kembali merekonstruksi diri yang jauh hanyut dari jiwa dan budaya ilmu. Lalu dibeleknya kitab Ta'lim al-Muta'allim ila Thariqah al-Ta'allum nukilan az-Zarnuji. Menilik kembali dirinya tatkala berjumpa dengan sepotong kata Az-Zarnuji :

“Al-Zarnuji menyatakan, niat dalam menuntut ilmu harus ikhlas, mengharap rida Allah, mencari kebahagiaan di akhirat, menghidupkan agama, menghilangkan kebodohan, dan melestarikan Islam”


Sering itu juga dia teringat bualan dirinya bersama Dr. Mohd sewaktu berbuka puasa, menghabiskan puasa enam lalu. Tanya Fathu Nursi “ust apa sebab yang menjadikan kita tidak bersungguh dalam menuntut ilmu? Jawabnya ringkas “chek balik niat awak” untuk apa belajar, kalau niat sudah tidak betul macam mana nak bersungguh, tentu ada penghalangnya, islahkan niat sentiasa. Fathu Nursi mengelamun, bermonolog, jawapan yang ringkas yang kembali kepada dasar, namun Fathu Nursi masih gusar dan tidak dapat menjadikan jawapan itu sebagai sumber kekuatan baginya untuk mengkoreksi kembali diri.

Seraya itu juga dia membandingkan dengan sebuah makalah Prof Wan Mohd Nor ya’ni Budaya Ilmu. Kata kitab itu “Allah tidak akan memberikan ilmu tanpa sebarang persediaan daripada pihak manusia justeru itu manusia perlu berusaha untuk mendapatkan ma’na, memperoleh ilmu”.

Allahuakbar! Sungguh aku tidak mengerti apa sudah jadi pada ku! Dulunya bersemangat, kini sudah luntur untuk rajin belajar, begitu malas dalam semua benda! Seringkali keluhan Fathu Nursi kedengaran saban masa dan waktu dan terkadang membuatnya mengelamun sendirian. Mengalami konflik jiwa yang berpanjangan. Bisiknya, bagaimana inginku meneruskan ‘pelajaran untuk menjadi pendidik di jalan pendidikan’ kalaulah begini keadaanya.

Argh! Ya Allah, keluarkan ku dari kecelaruan ini Ya Allah, bagaiman aku nak melestarikan Islam, menghilangkan kebodohan, menjadi pendidik di jalan pendidikan kalaulah begini keadaanku, kurniakan aku jawapannya, kerana disebalik az-zulumat ini akau yaqin ada an-nur yang bakal menerangi. Kala itu Fathu Nursi kerap kali keluar bersendirian ke Kuala Lumpur, mengunjungi perpustakaan , kedai-kedai buku, dan sering juga kelihatan di Kinokuniya Bookstore dan Taman KLCC juga masjid bersebelahannya menyendiri entah apa yang dicari. Mungkin mencari kembali ma’na kehidupan yang tidak lagi kelihatan berwarna warni dan indah itu.

Kata-kata Uncle bersongkok hitam dan kulit kehitam-hitaman yang tampak manis itu terngiang-nging ditelinganya. Uncle yang bemulut telus itu senantiasa mejadi pengkritik. Kata-katanya yang menjadi ingatan Fathu Nursi sehingga kini.

Katanya “kamu kena ingat, kamu adalah insan istimewa yang telah terpilih untuk berada dijalur ini (muallim), kamu tidak sama dengan engineer yang hanya berhadapan dengan mesin, belajar dengan mesin, tetapi kamu adalah muallim yang bakal mendidik satu generasi, sekiranya rosak generasi itu dek silapnya kamu dalam mendidik, maka generasi yang dirosakkan kamu akan berterusan mendidik generasi seterusnya menjadi rosak.Maka lahirnya masyarakat yang tiada roh adab dizaman modern liberal ini. Setelah itu apa lagi yang nak diharapkan bila mana semuanya sudah rosak!”

Fathu Nursi sejenak berfikir diringi jiwa zikirnya lalu nalurinya tertanya-tanya dimana perananku yang telah diberi kesedaran ini, peranan mendidik diri sendiri utamanya tanpa meninggalkan rakan-rakan muallim yang lain untuk bersama kearah jalan yang sama iaitu jalan melestarikan Islam dalam jiwa dan mengembalikan roh supaya kembali hidup dan subur dengan Islam seutuhnya.

Muhasabahnya itu menyebabkan dirinya seram sejuk dan menggigil lalu menangis teresak-esak mengenangkan kelemahan dirinya, watak pasrahnya kelihatan, seolah-olah menerima seadanya diri yang lemah itu. Sering juga dia kembali dengan semangat dan membuang watak pasarahnya dengan usaha bangkit kembali, tetapi selang seli dia pasrah kembali dan berulang juga dia kembali yaqin dan bersemangat.

Dia teirngat kembali, tidakkah guru Mus Masyhur mursyid da’wah itu sering mengingatkan kamu dalam makalahnya ? “menyeru manusia kepada Allah adalah kewajipan setiap muslim di setiap masa terutamanya dizaman kita ini yang penuh dengan serangat jahat musuh yang ingin mencabut teras da’wah dari jiwa uamt Islam” . Tidakkah ayat wahyu yang ditanzilkan itu sering kali kamu ulangkan? Surah Fushlat ayat 3 bermain ditelinganya “siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah...”. Tidakkah hadith Nabi itu seirng kamu alpakan? Ruh da’i. Ruh da’wah fardi , roh tarbiyah , roh tsaqafi dan ruh itqan dimana kau cicirkan. Ya Allah tiada yang layak ku pohon pertolongan untuk mengembalikan roh ini melainkan dari-Mu.

Dia takutkan jiwa narcissitic menodainya, gusar menjadikan hatinya mati. Kata Ibnu Athaillah as-Sakandari terngiang dihati dan telinganya ‘"ketika manisnya hawa nafsu menguasai kalbu, itulah penyakit hati nan telah membatu ". Adakah aku sudah mati Ya Allah, Fathu Nursi mengungkit kembali kecelaruan jiwanya. Aku sudah mati Ya Allah, sedangkan badanku masih berjalan kesana sini tetapi aku telah mati Ya Allah. Hidupkan aku kembali Ya Rahman!

Jiwa yang mati dari ruh sosial (bermuamalah), jiwa yang menyendiri yang asyik dan ego dengan diri dek kerana kesan bermain dengan teknologi internet (Facebook etc) dan sebagainya. Narcissistic berlebihan menjadi kan Fathu Nursi sedemikian kata seorang gurunya !

Narcissus by Caravaggio A Boeotian hero whose archaic myth was a cautionary tale warning boys against being cruel to their lovers. (wikipedia).

Entah saya pun tida mengerti. Isitilah narcissistic berasal dari Yunani yang dimaksudkan dengan kecintaan pada diri sendiri secara berlebihan. Mitos Yunani dan Narcissus menjadi kisah utama disebalik wujudnya istilah ini. Narcissus dalam mitos Yunani digambarkan sebagai seorang tokoh yang pada suatu masa telah melihat bayang dirinya di permukaan kolam sehinggakan membuatnya tergila-gila (cinta) akan bayang-bayang sendiri. Mungkinkah ini yang menyebabkan hatinya mati, menjadi tidak conscious lagi pada da’wah membawa muallim ke arah muallim yang benar, penting diri dari ummah dan islah diri kerana serangan narcissism ini. Bahaya yang samar dan perlu diterangkan! Renungan Fathu Nursi di pagi yang suram itu amat menyedihkan, dia sudah meninggalkan dirinya dari ikatan narcissistic atau self-esteem itu , mendapat kesedaran yang hakiki katanya, kembali kepada jiwa muthmainnah yang tidak tergambar ketenangannya...